Salah satu yang paling vokal adalah Adler Manurung, analis yang juga akademisi/Professor di bidang pasar modal. Penetapan harga saham pada level Rp 750, terlalu murah dibandingkan nilai sebenarnya. Pemerintah dianggap memberi banyak keuntungan kepada investor dan memasang target murah pada setiap agenda privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
"Harga kemurahan. Target pemerintah murah-murah semua," kata Adler.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Enggak ada yang lebih pintar dari Professor," tutur Elisa seraya bergurau dengan Adler di Jakarta, Senin (31/1/2011) malam.
"Kita senang di Rp 750,Β gain akan lebih baik," papar Elisa.
Elisa menegaskan, harga Rp 750 merupakan hasil valuasi EV/EBITDAR dimana didapat angka 6,9 kali. "Kalau konsensus dari analis 6,9 kali. Ini tanpa memperhitungkan uniqueness market. 6,9 juga sudah memperhitungkan krisis di market. Malaysia Air saja 7,4 kali," tuturnya.
Jika ada anggapan, valuasi yang dilakukan manajemen Garuda bersama penjamin emisi tidak sesuai dengan nilai saham perdana sesungguhnya, Elisa menyatakan hal tersebut sah-sah saja. Seperti analisa Adler, bahwa harga ideal saham Garuda adalah Rp 850, karena ada penambahan perhitungan hidden value dengan metode yang dipakai 'Black Scholes Model'.
"Kan sudut pandang beda-beda. Tujuan investasi kan garis besar ada dua, yaitu menikmati gain atau mengharap dividen. Kita uji saja di Indonesia, lebih banyak yang cari dividen atau gain," ucap Elisa.
Analis pasar modal Yanuar Rizky, sempat mengakui, harga Rp 750 untuk saham IPO Garuda menunjukkan ketidakseriusan pemegang saham dalam menciptakan persepsi yang baik. Hal ini menyebabkan respon yang beragam dari para investor terkait harga posisi optimal secara wajar.
"Indikasinya saat PE saja mepet dengan izin efektif Bapepam, sehingga molor dan ini merembet, hanya fokus ke hedge fund asing, tidak ciptakan beragam permintaan. Ini akan repot seperti KS (Krakatau Steel) jika posisi tidak optimal, itu terjadi karena seperti sudah diatur di harga tertentu atau setidak-tidaknya pasrah harga rendah," imbuhnya.
(wep/ang)











































