Demikian hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang tertuang dalam siaran pers yang disampaikan Kepala Biro Hubungan Masyarakat Bank Indonesia, Difi Ahmad Johansyah di Jakarta, Jumat (4/2/2011).
"Nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan sebagai akibat aliran modal keluar, rupiah mengalami pelemahan disertai volatilitas yang sedikit meningkat dipicu antara lain oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap meningkatnya tekanan inflasi," terang Difi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Difi menyampaikan, Dewan Gubernur meyakini bahwa aliran modal keluar (capital outflow) dan pelemahan rupiah tersebut bersifat temporer alias sementara. Hal ini, sambungnya dikarenakan faktor fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat.
"Sebagaimana penilaian lembaga rating Moody's yang menaikkan sovereign rating Indonesia menjadi Ba1 dengan outlook stabil. Selain itu kebijakan bank sentral melalui stabilisasi nilai rupiah juga mendorong pulihnya kestabilan rupiah," papar Difi.
Lebih jauh, Difi mengungkapkan karena tekanan inflasi yang kian tinggi maka kedepan BI akan mengurangi tekanan inflasi melalui penguatan nilai tukar rupiah.
"Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan inflasi kedepan dan memperkuat kebijakan nilai tukar rupiah yang sesuai dengan upaya mengurangi tekanan inflasi kedepan," pungkasnya.
(dru/qom)











































