Rupiah Keok, Indeks BEJ Anjlok 26,788 Poin

Rupiah Keok, Indeks BEJ Anjlok 26,788 Poin

- detikFinance
Senin, 10 Mei 2004 12:23 WIB
Jakarta - Pada penutupan perdagangan sesi pertama, Senin (10/5/2004), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta (BEJ) kembali anjlok hingga 26,788 poin pada level 716,849. Merosotnya indeks terutama karena sentimen negatif atas melemahnya rupiah dan turunnya seluruh bursa regional.Indeks LQ-45 yang memuat 45 saham yang paling aktif diperdagangkan turun 5,729 poin pada level 155,381, Jakarta Islamic Index (JII) turun 4,718 poin pada level 118,444, Indeks Papan Utama (MBX) turun 7,293 poin pada level 195,143 dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) turun 6,058 poin pada level 162,159.Meski indeks turun tajam, nilai perdagangan di pasar reguler relatif kecil yakni hanya di bawah Rp 500 miliar. Tercatat, sebanyak 7.031 kali transaksi yang terjadi dengan volume 1,485 juta lot saham senilai Rp 453,837 miliar. Hanya 7 saham yang mengalami kenaikan harga, sisanya 125 saham mengalami penurunan harga dan 257 saham lainnya stagnan.Saham-saham yang mengalami penurunan harga tertinggi di jajaran top loser antara lain Telkom (TLKM) turun Rp 350 menjadi Rp 7.300, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 200 menjadi Rp 13.200, Timah (TINS) turun Rp 175 menjadi Rp 1.950, Astra Internasional (ASII) turun Rp 150 menjadi Rp 5.400, Bank Danamon (BDMN) turun Rp 150 menjadi Rp 2.875.Kemudian, Indosat (ISAT) turun Rp 150 menjadi Rp 3.725, Bank BRI (BBRI) turun Rp 100 menjadi Rp 1.575, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 100 menjadi Rp 4.800, Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 75 menjadi Rp 1.275 dan Matahari Putra Prima (MPPA) turun Rp 75 menjadi Rp 500.Sedangkan saham-saham yang masih mencatat kenaikan harga di deretan top gainer didominasi oleh saham-saham lapis kedua seperti Pelayaran Tempuran Emas (TMAS) naik Rp 100 menjadi Rp 725, Hexindo Adi Perkasa (HEXA) naik Rp 50 menjadi Rp 1.450, Asuransi Bintang (ASBI) naik Rp 45 menjadi Rp 395, Bank Danpac (BDPC) naik Rp 25 menjadi Rp 450 serta Bank Permata (BNLI) naik Rp 5 menjadi Rp 40.Menurut Achmad Amir, analis dari DBS Vickers Securities, jatuhnya indeks terutama disebabkan oleh melemahnya rupiah terhadap dolar AS yang hingga siang turun hingga 76 poin menjadi Rp 8.810 per dolar AS. Selain itu, indeks juga tertekan akibat melemahnya seluruh bursa regional.Kondisi tersebut, menurut Achmad, karena investor khawatir akan situasi keamanan global di beberapa negara, termasuk kondisi politik dalam negeri yang belum ada kepastian. Namun demikian, ia menilai penurunan indeks karena aksi jual oleh investor terlalu berlebihan karena secara fundamental, ekonomi Indonesia cukup baik.Melihat sepinya nilai transaksi yang terjadi, ia menilai hal itu belum menunjukkan investor asing berbondong-bondong keluar dari lantai bursa. Menurutnya, kondisi itu justru akan dimanfaatkan oleh investor asing untuk kembali membeli saham pada kisaran harga yang rendah.Pada sesi kedua nanti, diperkirakan indeks masih akan tertekan seperti halnya sesi pertama. Sementara, posisi terendah indeks pada sesi pertama sempat berada di level 712,851. (ani/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads