"Lazimnya atas peningkatan suku bunga, mereka ingin menempatkan (investasi) ke yield yang lebih tinggi. Ada switch, kan equity masih tertekan," jelas Direktur Utama Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA) atau PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI)Β Ignatius Girendroheru di kantor Kementerian Keuangan, Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (7/2/2011).
Ia mengatakan, pasar tengah melakukan penyesuaian terkait pengumuman Bank Indonesia yang meningkatkan suku bunga acuan 25 bps. Hal ini penting agar investor tetap melirik ragam investasi yang ditawarkan, baik itu surat utang korporasi ataupun surat utang pemerintah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah BI yang menaikkan suku bunga acuan, tentu baik dan sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Peningkatan bunga 0,25% diprediksi juga dapat meredam laju inflasi yang selama ini terus merangkak naik.
"Ini tentu ekspektasinya, karena banyak yang merespon, bahwa langkah BI ini tepat, responsif dengan adanya laju inflasi. Namun kalau mereka masih wait and see, maka mereka akan masuk ke (surat utang) jangka pendek dan menegah. Kita akan lihat dampaknya dalam 1 minggu ini," ucap Ignatius.
Dengan beralihnya investasi dari pasar saham ke surat utang berpendapatan tetap, tidak berarti portofolio efek di bursa ditinggalkan investor. Mereka masih menilai, pasar saham masih menjanjikan pada jangka panjang. Terlebih dengan keluarnya laporan keuangan tahun 2010 dari emiten-emiten tercatat di BEI.
"Equity tertekan, tidak hanya pengaruh dari dalam negeri, tapi juga luar negeri. Tapi masih menunggu laporan keuangan dengan ekspektasi pembagian dividen. Masih cukup baik di 2010 dan itu yang diharapkan dan bisa medorong pasar equity," paparnya.
(wep/ang)











































