First State Investments Bidik Dana Kelolaan Baru Rp 1,5 Triliun

First State Investments Bidik Dana Kelolaan Baru Rp 1,5 Triliun

Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Senin, 07 Feb 2011 14:08 WIB
First State Investments Bidik Dana Kelolaan Baru Rp 1,5 Triliun
Jakarta - PT First State Investments Indonesia (FSI) mengincar dana kelolan baru sebanyak Rp 1,5 triliun tahun ini. Dana itu akan dikejar melalui penerbitan produk baru seperti reksa dana pasar uang, pendapatan tetap dan campuran.

Menurut Presiden Direktur FSI Hario Soeprobo, ditargetkan pada 2013, total AUM perseroan sudah mencapai Rp 5-6 triliun.

"Kita akan melakukan survei pasar dengan melihat permintaan pasar dan distributor. Rencana kita akan luncurkan produk campuran dan pendapatan tetap," katanya dalam rilis yang dipublikasikan, di Jakarta, Senin (7/2/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sepanjang tahun ini, perseroan juga akan mengurangi portofolio di reksa dana saham yang saat ini telah mencapai 65% dari total dana kelolaan FSI. "Kita mengurangi ketergantungan terhadap equity," ucapnya.

Sepanjang tahun lalu, total dana kelolaan perseroan mencapai Rp 2,6 triliun, dimana AUM pada reksa dana saham mencapai Rp 1,67 triliun.

Perseroan juga menerbitkan reksa dana baru berjenis pasar uang (Money Market Fund), dengan NAB tetap Rp 1.000 per unit penyertaan.

Menurut Direktur FSI Putut Andanawarih, penerbitan reksa dana ini didasarkan atas peningkatan volatilitas pasar saham dan obligasi yang terjadi sepanjang tahun 2010. Pertimbangan lain adalah, adanya tekanan inflasi yang berkelanjutan akan disusul kenaikan suku bunga.

"Dengan reksa dana pasar uang ini diharapkan investor dapat memperkecil resiko investasi dan mengoptimalkan return investasi," katanya.

Reksa dana pasar uang miliki perseroan mulai dijajakan pada 5 Januari lalu. Produk ini secara umum memiliki tingkat risiko rendah, dan paling tepat ditujukkan bagi investor konservatif. Artinya, bagi masyarakat yang baru belajar berinvestasi, Money Market Fund adalah produk yang paling tepat.

"Tingginya volatilitas pasar saham membuat sebagian investor kuatir dan memilih untuk mengamankan aset investor ke instrumen investasi yang lebih aman," jelas Putut.

(wep/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads