Mengawali perdagangan, mayoritas saham-saham unggulan menguat setelah kekhawatiran investor tentang situasi di Mesir sedikit mereda.
"Masalah geopolitik positif untuk saham-saham hari ini. Pembicaraan antara pemerintah Mesir dan kaum oposisi meredakan tegangan tuntutan mundur Presidan Hosni Mubarak, sehingga membuat sistem finansial negara tersebut kembali normal," ujar Scot Marcouiller, analis dari Wells Fargo Advisors seperti dikutip dari AFP, Selasa (8/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ukuran nilai kesepakatan-kesapakatan ini adalah sebuah indikasi bahwa pembeli-pembeli merasa nyaman menempatkan dananya untuk pekerjaan sementara perusahaan yang diambil nilainya di bawah," ujar James Dunigan, chief investment officer PNC Wealth Management seperti dikutip dari Reuters.
Pada perdagangan Senin (7/2/2011), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup menguat 69,40 poin (0,57%) ke level 12.161,55. Indeks Standard & Poor's 500 juga menguat 8,18 poin (0,62%) ke level 1.319,05 dan Nasdaq menguat 14,69 poin (0,53%) ke level 2.783,99.
Saham Danaher Corp tercatat naik 2,2%, Beckman Coulter naik 10%, EnsCo naik 4,2% dan Pride International melonjak 15,7%.
Namun volume perdagangan sangat tipis, dengan nilai transaksi perdagangan hanya 6,89 miliar lembar saham, di bawah rata-rata tahun lalu yang sebesar 8,47 miliar lembar saham.
Harga Minyak Surut
Meredanya ketegangan di Mesir juga telah membuat harga minyak surut. Minyak Brent juga sudah berada di bawah level US$ 100 per barel lagi.
Pada perdagangan Senin, minyak light sweet pengiriman Maret turun 1,55 dolar ke level US$ 87,48 per barel. Minyak Brent pengiriman Maret juga turun 58 sen menjadi US$ 99,25 per barel.
(qom/qom)











































