Pada perdagangan Selasa (8/2/2011), indeks Dow Jones industrial average (DJIA) ditutup menguat 71,52 poin (0,59%) ke level 12.233,15. Indeks Standard & Poor's 500 juga menguat 5,52 poin (0,42%) ke level 1.324,57 dan Nasdaq menguat 13,06 poin (0,47%) ke level 2.797,05.
Volume perdagangan di New York Stock Exchange sangat tipis yakni hanya sebesar 6,99 miliar lembar saham, dibawah perkiraan rata-rata transaksi tahun lalu yang mencapai 8,47 miliar lembar saham.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tipisnya volume, menyatakan kepada Anda pasar ini berjalan pada asap. Tapi itu tidak berarti penguatan tidak dapat berlanjut," ujar Peter Boockvar, analis dari Miller Tabak & Co seperti dikutip dari Reuters, Rabu (9/2/2011).
Pelemahan saham-saham energi membatasi penguatan S&P 500 dan Nasdaq. Hal itu terjadi setelah China, yang merupakan konsumen energi terbesar kedua dunia memutuskan menaikkan suku bungannya untuk kedua kalinya dalam 6 pekan terakhir. Langkah itu langsung menekan harga komoditas karena khawatir akan ada penurunan permintaan.
"Kenaikan suku bunga penting, namunini bukanlah pada level yang kritikal dimana akan menjadi semacam masalah," ujar Michael Mullaney, manajer portofolio dari Fiduciary Trust Co.
(qom/qom)











































