Namun, Direktur Utama PTBA Sukrisno menyebutkan negosiasi dengan perbankan asal China masih menjadi prioritas BATR. Pasalnya pembangunan Engineering, Procurement and Construction (EPC) dan Kontrak Operator & Maintenance (O&M) dilakukan oleh China Railway Group Limited.
"Dari Korea sudah mulai menawarkan, namun kita belum mengatakan mana yang akan diambil. Masih terbuka peluang. Kami menginginkan yang paling murah, tapi dengan 4 bank Cina itu masih jalan," paparnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
China Railway Group Limited bersama BATR memang telah mengikat kontrak jangka waktu 4 tahun, termasuk jangka waktu pekerjaan desain. Nlai kontrak untuk O&M disepakati sebesar US$ 3,5 miliar untuk jangka waktu 20 tahun.
Sebelumnya, BATR menjajaki pinjaman dari 5 bank asal China untuk mendanai proyek pembangunan angkutan kereta api dan pelabuhan batubara senilai US$ 1,5 miliar. Perbankan yang sudah memasukkan penawaran pinjaman ke BATR adalah Industrial and Commercial Bank of China Ltd (ICBC), The Export-Import Bank of China (China Eximbank), China Development Bank (CDB), dan Bank of China. Pinjaman yang nantinya akan didapat sebesar US$ 1,05 miliar atau 70% dari total investasi.
Ia menambahkan, kerjasama proyek Pembangunan Angkutan Kereta Api dan Pelabuhan Batubara ini akan terbangun sepanjang 307 km dengan kapasitas angkut 25 juta ton per tahun. Ini didapat dari tambang milik PTBA di Tambang Banko Tengah di Tanjung Enim, dengan cadangan batubara terbukti 500 juta ton.
"Semester I ini pembebasan lahan sudah dilakukan dan pada 2014 akhirnya bisa beroperasi," jelasnya.
Investasi 4 PLTU Senilai US$ 3,5 Miliar
Perseroan juga siap masuk dalam proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mulai tahun 2011. Total nilai investasi US$ 3,5 miliar.
Keempat PLTU tersebut yaitu PLTU Sumsel 6 dengan kapasitas 2x300 megawatt (MW), PLTU Pranap Riau berkapasitas 2x300 MW, PLTU Sumsel 8 yang memiliki kapasitas 2x600 MW dan PLTU Madura dengan kapasitas 2x200 MW. PLTU Sumsel 8 memiliki nilai investasi US$ 1,4 miliar. Sedangkan PLTU Sumsel 6 dan yang di Pranap Riau, bernilai US$ 800 juta.
"Untuk yang Madura bukan PLTU mulut tambang karena PTBA tidak punya tambang di situ. Nilai proyeknya US$ 500 juta. Tahap tahap awal kita sudah lolos PQ (prakualifikasi)," katanya.
Keempat proyek tersebut, segera ditenderkan oleh PLN. Dimana perseroan masuk bersama konsorsium, bersama perusahaan Cina untuk PLTU Sumsel 8 dan 6, dengan masing-masing porsi kepemilikan 45% dan 41%.
Untuk PLTU Pranap, PTBA join dengan perusahaan asal India, Lanko, bersama PT Pamapersada Nusantara (Pama). Pada konsorsium ini perseroan miliki sahaam 55%, PAMA 15% dan sisanya dimiliki Lanko.
BUMN tambang itu juga tengah fokus dalam pembangunan PLTU Banjarsari dengan kapasitas 2x100 MW dengan kebutuahn batubara 1,2 juta ton. PLTU Pembangkit berbahan bakar batubara ini diharapkan akan mulai beroperasi pada tahun 2013.
Perseroan memang bercita-cita menjadi perusahaan yang mengembangkan energi berbasis batubara mulai dari hulu hingga ke hilir. Selain masuk di pertambangan batubara dan pembangkit listrik, perseroan juga ikut aktif dalam pengembangan gasifikasi, Coalbed Methane (CBM)," jelasnya.
"Itukan semuanya energi yang berbasis batubara. Visinya memang begitu," tuturnya kala itu.
(wep/ang)











































