Dolar AS Bisa di Bawah Rp 8.900

Dolar AS Bisa di Bawah Rp 8.900

- detikFinance
Rabu, 09 Feb 2011 17:49 WIB
Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih bisa menguat terus seiring ketidakpastian perekonomian AS dan juga tingginya inflasi. Hal tersebut bisa memicu aliran modal masuk sehingga menguatkan nilai tukar rupiah.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya meyakini, dolar AS bisa melemah hingga di bawah level Rp 8.900 akibat tingginya aliran modal asing.

"Inflow masih akan berlanjut, Ekonomi Amerika masih ada uncertainty namun di Asia juga ada tekanan inflasi. Ada probability rupiah menguat dibawah Rp 8.900/US$," ujar Budi Mulya disela acara Indonesia Economic and Policy Outlook 2011 di Ritz Carlton Pacific Place, Kawasan SCBD, Jakarta, Rabu (9/2/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengakui, pemerintah sebenarnya senang rupiah menguat karena secara nasional diuntungkan. Ia juga meyakini penguatan rupiah tidak akan mengganggu eksportir.

"Jangan melihatnya itu dari sisi menguat kita saja, pesaing kita menguat juga bahkan lebih kuat lagi. Sehingga sebetulnya tidak terjadi sesuatu yang menakutkan kecuali kalau kita saja menguat, lalu negara-negara lain pesaing kita itu tidak menguat. Nah, itu kita akan terganggu ekspor kita. Buktinya, sepanjang tahun 2010 ekspor kita naik tajam," urai Hatta di kantor Wapres.

Budi Mulya juga mengatakan, dalam mengatur arus modal masuk itu, bank sentral telah mengatur likuiditas kepada instrumen jangka panjang. Instrumen jangka pendek, lanjut Budi Mulya akan dialihkan kepada instrumen Term Deposit (TD) yakin dengan tempo 6 bulan.

"Strategi dalam mengatur likuiditas tetap sejalan dengan kebijakan BI untuk longterm. Untuk jangka waktu 6 bulan masih tetap ada, tapi pada kesempatan ini melalui Term Deposit," kata Budi Mulya.

Seperti diketahui, BI tidak lagi menerbitkan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan tenor dibawah 9 bulan mulai Februari 2011. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pelaku pasar pada penempatan jangka pendek di instrumen moneter BI khususnya SBI.

Terkait kenaikan BI Rate menjadi 6,75%, Budi mengatakan hal tersebut disebabkan karena inflasi telah melebihi target. Kedepan, lanjut Budi, nilai tukar rupiah disesuaikan dengan kecenderungan menguat untuk mengurangi imported inflation.

Pada perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah di posisi Rp 8.930 per dolar AS dibandingkan penutupan kemarin di Rp 8.915 per dolar AS.Lelang SBI Serap Rp 14 TriliunSementara itu, Kepala Biro Hubungan Masyarakat BI Difi Ahmad Johansyah mengatakan hari ini BI menyerap Rp 14 triliun dari lelang Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 9 bulan dari penawaran yang masuk Rp 37 triliun.

"Ekses likuiditas yang masih ada akan ditawarkan dalam lelang term deposit berikut dengan tenor yang lebih pendek dan bervariasi," ujar Difi. (qom/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads