Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membantah saham PT Garuda Indonesia Tbk tak diminati investor asing sehingga jatahnya tidak terserap dengan baik.
Pemerintah juga membantah rencana penjamin emisi (underwriter) Garuda yang berniat mencari pinjaman perbankan guna menyerap sisa saham jatah asing yang tak laku.
"Tidak benar itu. Itu semuanya hanya rumor," kata Deputi Kementerian BUMN Bidang Restrukturisasi dan Privatisasi, Achiran Pandu Djajanto kepada detikFinance, Kamis (10/2/2011).
Guna membahas kabar tak sedap tersebut, Kementerian BUMN hari ini langsung menggelar rapat bersama para penjamin emisi Garuda. Menurutnya, hasil rapat tersebut akan diumumkan kepada publik, sore ini juga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara terpisah, Menteri BUMN Mustafa Abubakar juga menampik kabar tersebut. Dari laporan yang ia terima dari Deputi Menteri BUMN dan manajeman Garuda, hasil penawaran saham Garuda berjalan dengan normal.
"Ada laporan dari deputi dan emiten hasilnya normal saja. Saya berharap kondisinya baik dan normal dan terserap oleh pasar, kita tunggu saja di listing besok," ungkap Mustafa di Jakarta.
Mustafa menyatakan, hasil dari penawaran umum Garuda akan diumumkan sore ini di kantornya pukul 17.00 WIB bersamaan dengan pengumuman direksi PT Pertamina (Persero) yang baru.
Sebelumnya beredar kabar, dari jatah investor asing sebanyak 20% dari total saham IPO Garuda, yang terserap hanya sekitar 2% atau setara Rp 91 miliar saja. Akibatnya, underwriter harus siap menyerap sisa jatah asing tersebut.
Kabarnya, untuk menggenjot dana, para underwriter tersebut sedang mencari pinjaman perbankan supaya bisa membeli sisa jatah asing tersebut. Beberapa sudah mendekati bank-bank milik pemerintah.
Garuda akan melepas saham baru sebanyak 6,33 miliar lembar atau setara dengan 26,67% dari total modal yang ditetapkan. Porsi ini didiskon dari target semula 30%. Pemerintah telah menetapkan harga IPO Garuda Rp 750 per lembar.
Dengan demikian, total dana yang didapat mencapai Rp 4,751 triliun. Dari total dana tersebut, sebanyak 20% rencananya dikontribusi oleh investor asing dan 80% sisanya dari pemodal dalam negeri. (ang/dnl)











































