Menteri BUMN Batal Buka-Bukaan Soal Hasil IPO Garuda

Menteri BUMN Batal Buka-Bukaan Soal Hasil IPO Garuda

- detikFinance
Kamis, 10 Feb 2011 18:56 WIB
Menteri BUMN Batal Buka-Bukaan Soal Hasil IPO Garuda
Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar batal membuka hasil penyerapan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) PT Garuda Indonesia (Persero). Mustafa menyerahkan sepenuhnya pengumuman kepada joint lead underwriter (JLU) yang juga tidak mau membuka mulut.

"Kalau (hasil penawaran) Garuda sudah bukan wewenang pemerintah, tapi JLU. Jadi mohon maaf, sampai ketemu pas listing besok," kata Mustafa di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (10/2/2011).

Pernyataan Mustafa ini bertentangan dengan pernyataan dirinya siang tadi yang menyebutkan, baik pemerintah atau underwriter akan membuka hasil penawaran umum Garuda dalam menanggapi rumor tak sedap, di mana investor asing tidak menyerap seluruh saham Garuda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang penting bagi pemerintah adalah Alhamdulillah Garuda sudah go public. Kami pemegang saham ikut senang dan dana yang dibutuhkan sudah masuk," ujarnya.

Meski bungkam, Mustafa sudah menginstruksikan para JLU untuk membuka hasil penawaran Garuda tersebut. Namun sayangnya, para JLU seolah-olah enggan menuruti perintah Menteri BUMN tersebut.

Dua orang dari Mandiri Sekuritas, Direktur Investment Banking Iman Rachman dan Direktur Kartika Wirjoatmojo yang ditemui di tempat yang sama juga menolak untuk membuka hasil penawaran umum Garuda tersebut. Alasannya, hasil penawaran umum itu akan diumumkan oleh salah satu Direktur Utama dari JLU.

Sekuritas yang tergabung dalam JLU Garuda adalah Mandiri Sekuritas, Danareksa Sekuritas dan Mandiri Securities. Ketika dikonfirmasi detikFinance melalui telepon dan pesan singkat, Direktur Utama Bahana Securities Eko Yuliantoro, Direktur Utama Danareksa Sekuritas Marciano Herman dan Direktur Utama Garuda Emirsyah Satar sama sekali tidak merespons.

Sebelumnya beredar kabar, dari jatah investor asing sebanyak 20% dari total saham IPO Garuda, yang terserap hanya sekitar 2% atau setara Rp 91 miliar saja. Akibatnya, underwriter harus siap menyerap sisa jatah asing tersebut.

Kabarnya, untuk menggenjot dana, para underwriter tersebut sedang mencari pinjaman perbankan supaya bisa membeli sisa jatah asing tersebut. Beberapa sudah mendekati bank-bank milik pemerintah.

Pemerintah berjanji untuk menanggapi rumor tersebut dengan membuka data hasil penawaran. Namun, ternyata, baik pemerintah maupun pihak terkait yang terlibat dalam IPO Garuda bersikeras untuk tutup mulut.
(ang/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads