Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Mustafa Abubakar sudah menduga saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) akan anjlok di hari pertamanya masuk bursa. Penurunan ini dianggap biasa saja karena sejalan dengan turunnya IHSG.
"Up and down itu suatu yang normal. Indeks kan melemah, pasar modal juga sudah turun. Kalau Garuda turun itu mengikuti irama, saya sudah duga ini akan terjadi," ujarnya saat listing Garuda di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (11/2/2011).
Ia mengaku tidak khawatir dengan turunnya saham Garuda ini. Ia yakin sahamnya bisa kembali menanjak seiring dengan kinerja maskapai pelat merah itu di kemudian hari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga saham Garuda pada pencatatan saham perdana dibuka turun Rp 50 ke level Rp 700 dari harga perdananya Rp 750 per lembar.
Hingga pukul 9.35 waktu JATS, saham berada di kisaran Rp 650 per lembar saham, dan sempat menyentuh harga terendah di Rp 580 per lembar.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 47,48% atau 3.008.406.725 lembar saham dari total saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) terserap oleh penjamin emisi karena sepinya permintaan. Hanya 3.327.331.275 lembar yang terserap oleh pasar, baik melalui pooling ataupun institusi.
Tercatat saham dipesan oleh 11.068 pihak, dengan jumlah lembar 3.327.331.275.
Garuda melepas saham baru sebanyak 6,335 miliar lembar, atau setara dengan 26,67% dari total modal yang ditetapkan. Dengan harga pelaksanaan Rp 750 per lembar maka dana yang dapat Rp 4,751 triliun.
Uang ini tidak dinikmati Garuda sendiri. Pasalnya ada hak saham milik Bank Mandiri, dari utang perseroan yang kemudian dikonversi menjadi saham perdana. Saham Garuda milik BMRI sebanyak 1,9 miliar lembar, sedangkan milik BUMN Aviasi sendiri 4,4 miliar lembar. Dengan demikian jatuh murni Garuda atas saham IPO miliknya, Rp 3,3 triliun, sedangkan untuk BMRI Rp 1,451 triliun.
(ang/qom)











































