"Ini kan mengikuti indeks saham yang turun, saya sih melihat apa adanya saja," ujar Emir pasrah usai pencatatan saham perdana Garuda di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (11/2/2011).
Memang beberapa menit perdagangan saham berlangsung, saham maskapai plat merah ini sempat terjun ke titik terendahnya Rp 580 per lembar sebelum akhirnya stabil di level Rp 640 per lembar. Indeks harga saham gabungan (IHSG) juga melemah 5,338 poin (0,16%) ke level 3.368,306.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Emir berjanji ke depan perseroan akan menjalankan bisnisnya sesuai dengan rencana yang sudah kita janjikan. "Lagian kalau beli saham kan bukan buat dijual besok, tapi buat jangka panjang," cetus Emir.
Berdasarkan dataΒ Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 47,48% atau 3.008.406.725 lembar saham dari total saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) terserap oleh penjamin emisi karena sepinya permintaan. Hanya 3.327.331.275 lembar yang terserap oleh pasar, baik melalui pooling ataupun institusi.
TercatatΒ saham dipesan oleh 11.068 pihak, dengan jumlah lembar 3.327.331.275.
Garuda melepas saham baru sebanyakΒ 6,335 miliar lembar, atau setara dengan 26,67% dari total modal yang ditetapkan. Dengan harga pelaksanaan Rp 750 per lembar maka dana yang dapat Rp 4,751 triliun.
Uang ini tidak dinikmati Garuda sendiri. Pasalnya ada hak saham milik Bank Mandiri, dari utang perseroan yang kemudian dikonversi menjadi saham perdana.
Saham Garuda milik BMRI sebanyak 1,9 miliar lembar, sedangkan milik BUMN Aviasi sendiri 4,4 miliar lembar. Dengan demikian jatuh murni Garuda atas saham IPO miliknya, Rp 3,3 triliun, sedangkan untuk BMRI Rp 1,451 triliun.
(wep/dnl)











































