Saham Garuda Turun Karena Terlalu Mahal dan Salah Waktu

Saham Garuda Turun Karena Terlalu Mahal dan Salah Waktu

- detikFinance
Jumat, 11 Feb 2011 11:30 WIB
Saham Garuda Turun Karena Terlalu Mahal dan Salah Waktu
Jakarta - Debut awal saham maskapai plat merah PT Garuda Indonesia Tbk mengecewakan karena langsung melemah. Saham yang dibanderol Rp 750 per lembar ini dinilai terlalu tinggi dan masuk ke pasar di saat yang tak tepat.

Head of Investment Banking UBS Securities Rajiv Louis mengatakan, selain dua faktor tadi, faktor inflasi global juga ikut mendorong sentimen negatif di apsar modal.

"(Penurunan saham Garuda) ini karena faktor inflasi global. Mungkin harganya juga terlalu tinggi dan timing yang belum tepat. Jadi ada beberapa faktor yang mempengaruhi seperti inflasi dunia," tutur Rajiv usai pencatatan saham perdana Garuda di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (11/2/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nemun secara umum, Rajiv menilai sentimen negatif inflasi menjadi penyebab investor global masih menarik uangnya di negara-negara berkembang.

"Menurut saya secara umum (investor) asing sebenarnya suka dengan Garuda dari sisi perusahaan maupun manajemennya," jelas Rajiv.

Jadi menurutnya tinggal menunggu waktu saja sampai asing kembali masuk dan bakal mengincar saham maskapai penerbangan milik pemerintah tersebut.

Seperti diketahui, harga saham Garuda pada pencatatan saham perdana dibuka turun Rp 50 ke level Rp 700 dari harga perdananya Rp 750 per lembar.

Hingga pukul 9.35 waktu JATS, saham berada di kisaran Rp 650 per lembar saham, dan sempat menyentuh harga terendah di Rp 580 per lembar.

Berdasarkan data  Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 47,48% atau 3.008.406.725 lembar saham dari total saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) terserap oleh penjamin emisi karena sepinya permintaan. Hanya 3.327.331.275 lembar yang terserap oleh pasar, baik melalui pooling ataupun institusi.

Tercatat  saham dipesan oleh 11.068 pihak, dengan jumlah lembar 3.327.331.275.

Garuda melepas saham baru sebanyak  6,335 miliar lembar, atau setara dengan 26,67% dari total modal yang ditetapkan. Dengan harga pelaksanaan Rp 750 per lembar maka dana yang dapat Rp 4,751 triliun.

Uang ini tidak dinikmati Garuda sendiri. Pasalnya ada hak saham milik Bank Mandiri, dari utang perseroan yang kemudian dikonversi menjadi saham perdana. Saham Garuda milik BMRI sebanyak 1,9 miliar lembar, sedangkan milik BUMN Aviasi sendiri 4,4 miliar lembar. Dengan demikian jatuh murni Garuda atas saham IPO miliknya, Rp 3,3 triliun, sedangkan untuk BMRI Rp 1,451 triliun.
(dnl/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads