Tiga penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) ini bisa dinilai sebagai aksi korporasi yang kurang memuaskan, jika tidak ingin dibilang gagal, karena tidak membuahkan kenaikan harga saham seperti IPO pada umumnya.
Saham ketiganya langsung terkoreksi tepat pada hari pertamanya masuk bursa. Situasi pasar modal yang sedang bergejolak bisa jadi penyebab anjloknya saham-saham tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
IPO pertama di tahun 2011, yaitu Megapolitan Development pada perdagangan perdananya, Rabu (12/01/2011), langsung turun dan berada pada posisi Rp 215 per lembar, meskipun sempat naik di level Rp 270 per lembar.
Pada listing perdananya pukul 9.30 JATS di hair yang sama, saham EMDE naik tipis 8% ke level Rp 270, dibandingkan harga pedana Rp 250. Namun, dalam tempo 10 menit berselang, saham Megapolitan langsung merosot menjadi Rp 230, dan terus turun di level Rp 215. Ini berarti terjadi penurunan 14%.
Padahal ketika itu, IHSG ditutup pada posisi 3.531,046 baru, atau pulih dengan naik 2,23% dibanding penutupan satu hari sebelumnya. Hari ini, saham EMDE ditutup stagnan di Rp 154 per lembar, sudah melemah 38% dari harga IPO.
Megapolitan melepas saham ke publik sebanyak 850 juta lembar dengan total dana yang dapat dihimpun mencapai Rp 212,5 miliar.
Emiten kedua di tahun 2011 adalah PT Martina Berto Tbk yang listing di 13 Januari 2011 lalu, dengan harga perdana Rp 740 per lembar. Di awal perdagangan kala itu, saham MBTO sempat naik hingga Rp 800 per lembar, namun ini tak berlangsung lama.
Pada awal pembukaan perdagangan saham pukul 09.30 waktu JATS, Kamis (13/1/2011), saham MBTO meningkat signifikan Rp 60 dari penetapan harga sebelumnya, Rp 740 per lembar. Namun selanjutnya saham MBTO turun dan pada pukul 9.35 waktu JATS, sahamnya turun ke Rp 710 per lembar saham, dan sempat menyentuh harga terendah di Rp 670 per lembar.
Anak usaha Martha Tilaar itu menawarkan saham perdana sebanyak 355 juta lembar atau setara dengan 33,17% dari total saham perseroan. Dengan penawaran saham baru kepada publik itu dana yang didapat mencapai Rp 262,7 miliar.
Sama halnya dengan saham EMDE, IHSG pada 13 Januari itu juga tercatat sudah rebound, namun saham MBTO tetap saja tak mampu menguat. Pada perdagangan, Kamis (13/1/2011), IHSG tercatat naik 10,171 poin (0,28%) ke level 3.564,937.
Hingga Jumat, 11 Februari ini, saham MBTO ditutup melemah di Rp 475 per lembar saham, turun Rp 5 dari penutupan hari sebelumnya di Rp 480 per lembar. Sahamnya sudah turun 35,8% dari harga perdananya.
Tamu BEI terakhir di awal tahun 2011 ini adalah maskapai milik negara, Garuda Indonesia. Hal yang sama kembali terjadi kepada saham berkode GIAA ini seperti dua tamu terdahulu.
Pada awal pembukaan perdagangan saham pukul 09.30 JATS, Jumat (11/2/2011), saham GIAA menurun signifikan Rp 50 dari penetapan harga sebelumnya, Rp 750 per lembar. Sampai pada penutupan bursa, saham Garuda di Rp 620 per lembar, terkoreksi Rp 130 (17,33%) dari harga pembukaan Rp 750 per lembar saham.
Dan lagi-lagi, pelemahan saham GIAA juga tetap terjadi meski IHSG sudah pulih. Pada perdagangan Jumat (11/2/2011), IHSG menguat 18,122 poin (0,53%) ke level 3.391,766.
Garuda menjadi salah satu saham yang paling aktif dengan frekuensi perdagangan sebanyak 10.166 kali dengan volume 1,166 juta lot setara 583,479 juta lembar saham. Investor asing pun melepas saham Garuda hingga sebanyak Rp 11,232 miliar.
Garuda melepas saham baru sebanyak 6,335 miliar lembar, atau setara dengan 26,67% dari total modal yang ditetapkan. Dengan harga pelaksanaan Rp 750 per lembar maka dana yang dapat Rp 4,751 triliun.
Banyak faktor yang melandasi kenapa saham-saham yang mencatatkan saham perdana itu langsung loyo pada debut perdananya.
Khusus untuk Garuda, investor justru menilai harga perdana Rp 750 yang ditetapkan terlalu mahal, disamping waktu listing yang tidak tepat sehingga membuat investor langsung melepas portofolionya.
Head of Investment Banking UBS Securities Rajiv Louis mengatakan, saham Garuda terlalu tinggi dan masuk ke pasar di saat yang tak tepat disamping faktor inflasi global juga ikut mendorong sentimen negatif di pasar modal.
"(Penurunan saham Garuda) ini karena faktor inflasi global. Mungkin harganya juga terlalu tinggi dan timing yang belum tepat. Jadi ada beberapa faktor yang mempengaruhi seperti inflasi dunia," tutur Rajiv.
Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkirakan jumlah emiten yang akan mencatatkan sahamnya di lantai bursa pada tahun 2011 akan mencapai 25. Semoga emiten-emiten tersebut bisa bernasib lebih baik.
(ang/qom)











































