Hal ini disampaikan oleh Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito, di Hotel Kempinski, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (16/2/2011).
"IPO BUMN, harus timing yang tepat. Kalau retorika ini kata-kata yang indah. Tapi realisasi, kalau timing tepat agak sulit," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Persiapan IPO tidak bisa dikerjakan dalam waktu pendek. Persiapan IPO 4 bulan," paparnya.
Lebih Llanjut Ito mengatakan memang ada perusahaan yang menunda proses penawaran saham perdana saham kepada publik. Salah satu alasan, kondisi pasar modal masih tertekan. Namun bisa juga diputuskan, meski indeks saham terkoreksi, perusahaan 'go show' untuk IPO seperti yang dialami Garuda Indonesia.
"Jadi memastikan timing IPO tidak mudah, bahkan tidak perlu," ucapnya.
Ito menyampaikan, sepanjang tahun lalu menggalangan dana dari pasar keuangan mencapai Rp 250 triliun.
Sebesar Rp 150 triliun dihasilkan atas penerbitan surat utang negara. Sisanya Rp 80 triliun, berupa penerbitan saham baru (IPO, rights issue, dan waran). Juga ada penerbitan surat utang obligasi, senilai Rp 30 triliun.
"Total kapitalisasi pasar Indonesia lebih 3.000 triliun dari 423 emiten. Jadi pasar modal jadi alternatif pembiayaan dan 2011 punya peluang besar," tegas Ito.
(wep/dnl)











































