KIJA Lunasi Utang ke Bank Inter Pacific Tahun Ini
Senin, 17 Mei 2004 12:55 WIB
Jakarta - Perusahaan properti PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) akan menuntaskan restrukturisasi utang yang tersisa senilai US$ 6 juta kepada Bank Inter Pacific paling lambat akhir tahun ini. Utang kepada Bank Inter Pacific paling akhir diselesaikan karena terkait proses divestasi bank tersebut."Yang belum direstrukturisasi sebesar US$ 6 juta kepada Bank Inter Pacific. Tapi dalam waktu dekat akan kita selesaikan atau paling lambat akhir tahun ini," kata Direktur Keuangan KIJA, Budianto Liman, dalam paparan publik di gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Jl. Jenderal Sudirman, Senin (17/5/2004).Menurut Budianto, hambatan utama dalam pembayaran utang ke Bank Inter Pacific karena bank tersebut akan menyelesaikan terlebih dulu proses divestasi. Total keseluruhan utang perseroan pada awal restrukturisasi berjumlah US$ 300 juta, dimana mampu diselesaikan hampir dalam waktu dua tahun.Penyelesaian restrukturisasi utang tersebut dengan kondisi yakni 10 persen tetap dianggap utang, 10 persen pembayaran tunai dari dana internal perusahaan dan 80 persen dikonversi menjadi ekuitas.Kuasi ReorganisasiBudiman juga menjelaskan, perseroan akan melakukan kuasi reorganisasi untuk menghapus defisiensi modal yang per 31 Desember 2003 mencapai Rp 1,583 triliun. Dengan kuasi reorganisasi, maka defisit kerugian akan menjadi nol.Selain itu, neraca perseroan juga tidak dibebani defisit lagi karena telah terjadi perubahan struktur ekuitas. Menurut dia, perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham untuk melakukan kuasi reorganisasi dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 9 Juni 2004.Sementara itu, kinerja perusahaan berupa penjualan dan laba bersih pada tahun 2004 diperkirakan akan sama seperti tahun sebelumnya. Hal ini karena tidak ada perubahan corporate action yang signifikan hingga bisa mendongkrak kinerja perusahaan.Pada akhir tahun 2003, laba bersih perusahaan sebesar Rp 234 miliar dengan memasukkan diver tax. Hingga kuartal pertama 2004, laba bersih yang dicapai sebesar Rp 6 miliar. Hal ini karena pada kuartal pertama pelaksanaan pembangunan proyek berjalan lambat karena adanya musim hujan.Dengan adanya kuasi reorganisasi, maka nilai nominal saham perusahaan yang semula Rp 1.000 dan Rp 150 akan berubah menjadi Rp 500 dan Rp 75.
(ani/)











































