Banyak pelaku pasar modal beranggapan, merosotnya performa saham GIAA disebabkan penetapan harga perdana yang tidak sesuai dengan kondisi pasar. Harga Rp 750 terlalu tinggi dibandingkan penawaran calon investor saat pre-marketing dilakukan bulan Januari lalu dan hasil riset independen. Hingga penjamin emisi (underwriter) dan internasional selling agents harus menjual saham Garuda dengan harga Mercy, meski berkualitas Toyota.
Sumber detikFinance yang mengetahui skema pembentukan harga ini mengaku, pemegang saham GIAA, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bahkan sebelumnya menginginkan harga GIAA dikisaran Rp 900-1080 per lembar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan Mustafa, diharapkan dengan kisaran harga tinggi tersebut investor bisa berbondong-bondong mengantre untuk membeli saham Garuda, seperti saat penonton mengantre tiket sepakbola "Garuda Di Dadaku".
Sontak pernyataan Mustafa menganggetkan para penjamin emisi dan internasional selling agents yang ikut dalam rapat penetuan kisaran harga. Pasalnya berdasarkan hasil riset independen yang dilakukan 5 profesi penunjang tersebut, saham GIAA hanya dihargai Rp 560-850 per lembar. Bahkan UBS Securities dan Citigroup menginginkan harga dibawah Rp 500 agar saham GIAA dapat terserap oleh pasar internasional secara maksimal.
"Riset keluar pada 30 Desember lalu oleh 3 JLU (Join Lead Underwriter) dan 2 internasional selling agents. Kemudian kami bagikan ke klien sebanyak 130. Dan pelaksanaan pre marketing pada 4 Januari kemarin, untuk menampung usulan harga. What do you think about Garuda?" jelas Sumber itu.
"Hasil riset dan pre-marketing di dapat kisaran harga Rp 560-850 per lembar dan sudah disepakati underwriter kemudian dipresentasikan ke pak Menteri," tambahnya.
Sejatinya, manajemen Garuda Indonesia tidak mempermasalahkan posisi harga saham mereka yang ditawarkan kepada publik. Bahkan dengan level Rp 500-600 per lembar, manajemen sudah setuju. Begitu pula dengan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang memiliki saham Garuda hasil konversi utang.
"Mandiri yang terpenting utangnya kembali, kalau bisa BEP (Break Even Point). Manajemen Garuda juga sudah oke di Rp 500-600. Yang penting mereka dapat dana Rp 3,3 triliun untuk pengembangan bisnisnya," ucapnya.
Lalu 5 profesi penunjang ini menemui Deputi Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis Kementerian BUMN, Pandu Djajanto, seraya berharap kisaran harga dapat disesuaikan berdasarkan hasil riset dan pre-marketing. Karena dengan harga Rp 900-1.080, besar kemungkinan investor asing tidak akan melirik saham GIAA.
Namun, Pandu tetap berpegang pada arahan atasannya. "Masak Rp 1.000 nggak bisa? Harusnya bisa," tutur sumber detikFinance itu menirukan ucapan Pandu.
Dengan berat hati 5 profesi penunjang tetap melanjutkan proses IPO GIAA, ditengah kekhawatiran saham perdana tidak akan terserap investor strategis. Benar saja, saat proses road show ke lima negara nyaris seluruh investor institusi menyatakan keberatan atas harga saham perdana GIAA. Meski di sisi lain investor institusi mengaku bahwa Garuda memiliki prospek bagus dengan manajemen yang konpenten.
Saat kisaran harga Rp 750-1000 ditawarkan, investor menyatakan: "The price is to high." Sehingga penjamin emisi dan UBS juga Citigroup harus menjual saham Garuda dengan harga Mercy meskipun kenyataannya GIAA baru berkelas Toyota.
detikFinance pun berusaha untuk melakukan konfirmasi kepada 3 JLU ataupun 2 internasional selling agents, terkait proses pembentukan harga saham GIAA yang tida wajar tersebut. Namun hingga kini, seluruh profesi penunjang IPO saham GIAA enggan untuk berkomentar.
Seperti diketahui, Garuda melepas saham baru sebanyak 6,335 miliar lembar, atau setara dengan 26,67% dari total modal yang ditetapkan. Dengan harga pelaksanaan Rp 750 per lembar maka dana yang dapat Rp 4,751 triliun.
Uang ini tidak dinikmati Garuda sendiri. Pasalnya ada hak saham milik Bank Mandiri, dari utang perseroan yang kemudian dikonversi menjadi saham perdana. Saham Garuda milik BMRI sebanyak 1,9 miliar lembar, sedangkan milik BUMN Aviasi sendiri 4,4 miliar lembar. Dengan demikian jatuh murni Garuda atas saham IPO miliknya, Rp 3,3 triliun, sedangkan untuk BMRI Rp 1,451 triliun.
Dari saham yang dilepas itu, sebanyak 47,48% atau 3.008.406.725 lembar saham dari total saham PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) terserap oleh penjamin emisi karena sepinya permintaan. Hanya 3.327.331.275 lembar yang terserap oleh pasar, baik melalui pooling ataupun institusi. Tercatat saham dipesan oleh 11.068 pihak, dengan jumlah lembar 3.327.331.275.
Pada perdagangan Kamis (17/2/2011), pagi ini, saham berkode GIAA itu tercatat naik Rp 20 menjadi Rp 580.
(wep/qom)











































