Head of Technical Analyst Batavia Prosperindo Securities, Billy Budiman, mengatakan kecenderungan investor untuk melakukan aksi beli saham rights issue BMRI terjadi karena secara fundamental saham perseroan tergolong prospektif. Terlebih sejak 14 Februari 2011, dimanaa saham HMETD telah diperdagangkan baik di dalam maupun di luar BEI hingga 21 Februari 2011.
"Transaksi saham BMRI memang ramai karena proses HMETD. Saham BMRI kita tahu banyak diserap asing, dan ini memberikan rasa aman kepada investor lokal yang selama ini memang tergantung sama asing," paparnya kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (18/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keyakinan investor untuk nmemperdagangkan saham BMRI, tambah Billy, terjadi selain raihan prestasi cetak laba Rp 8,5 triliun, perseroan juga mencapat keuntungan Rp 400 miliar dari penjualan saham GIAA. Jadi harga wajar saham BMRI, katanya di posisi Rp 7.250 per lembar saham.
Saham BMRI dinantikan pada level Rp 6.200, akibat volume perdagangan yang cukup besar dalam beberapa hari terakhir sejak 14 Februari lalu. Meskipun ada potensi rebound dengan level support ressistance 5.750-6.000.
"Jika melampaui Rp 6.200 maka target kenaikan bisa ke Rp 6.800. Namun jika harga turun di bawah Rp 5.350 maka (saham BMRI) akan kembali ke masa Maret-Mei 2010 dikisaran Rp 4.800-5.300," kata Analis pasar modal PT Samuel Sekuritas, Mohammad Alfatih.
BMRI melepas 2.336.838.591 saham baru melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) bertujuan untuk menjaga rasio kecukupan modal. Menurut Direktur Utama Bank Mandiri, Zulkifli Zaini, hal ini dilakukan dalam rangka mendukung pertumbuhan kredit yang diperkirakan dapat mencapai sebesar 20% secara rata-rata per tahun sampai dengan tahun 2014 sesuai dengan corporate plan.
Saham baru dapat diperdagangkan di pasar mulai tanggal 14-21 Februari 2011. Pasca right issue porsi kepemilikan Negara republik Indonesia akan menjadi 60% dari saat ini sebesar 66,73%.Β Sementara saham publik akan menjadi 40%.
(wep/ang)











































