Menteri BUMN, Mustafa Abubakar mengaku tidak melakukan intervensi kepada underwriter IPO PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), untuk mencairkan sejumlah dana dan pinjaman kepada sesama BUMN Sekuritas.
"Itu mereka sendiri. Kan punya kiat masing-masing. Menjaga. Kita tidak ada (intervensi)," kata Mustafa di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Jumat (18/2/2011).
Seperti diketahui, terdapat sisa saham IPO GIAA yang tidak terserap investor sebanyak 3,008 miliar lembar dengan nilai Rp 2,25 triliun. Dimana 3 sekuritas BUMN harus menyerap secara tanggung renteng masing-masing Rp 752 miliar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Β
Sisa kebutuhan modal Bahana, didapatkan dari pinjaman money market dan interbank loan. Satu lagi pendanaan PT Mandiri Sekuritas Rp 752 miliar disuntikkaan oleh Bank Mandiri sebagai induk usaha. Kabar pinjaman Rp 1,7 triliun dana kepada 3 BUMN sekuritas sudah santer dibicarakan oleh para pelaku pasar.
Mustafa menyebut, segala proses IPO Garuda termasuk pembentukan harga saham perdana sudah memenuhi prosedur yang berlaku. Rp 750 merupakan harga terbaik untuk semua pihak.
"Bagi kami ini yang terbaik untuk semua," paparnya.
Harga saham GIAA sendiri dipercaya Mustafa bakal naik, mengingat prospek industri penerbangan Indonesia belum berkembang optimal. Namun, hingga sesi II perdagangan berjalan, GIAA berada di level Rp 570 per lembar, stagnan dari penutupan sebelumnya.
"Ke depan masih bagus. Garuda akan tambah pesawat. Itu hal yang wajar. Tunggu saatnya naik. Saya optimis. Dari IPO kita, yang sukses juga ada BNI, Mandiri semoga, juga KS," tuturnya. (wep/ang)











































