Ketua Tim Outlook Jangka Pendek dan Diseminasi Kebijakan, Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Endy Dwi Tjahyono mengatakan stabilisasi rupiah di level Rp 9000 /US$ yang dilakukan sepanjang 2010 telah memakan biaya besar.
"Capital inflow adalah salah satu risiko perekonomian Indonesia, selain inflasi dan ekses likuiditas. BI akan menggunakan instrumen nilai tukar dibiarkan menguat (hadapi capital inflow), sebab ini juga bisa untuk kurangi tekanan inflasi," ujarnya dalam Seminar Moneter dan Sistem Keuangan di Hotel Mason Pine, Padalarang, Bandung, Sabtu (19/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun stabilisasi rupiah itu berbiaya besar karena (BI) harus menyerap capital inflow dan membuat cadangan devisa naik pesat dari US$66 miliar menjadi US$98 miliar," jelasnya.
Ketika ditanya mengenai biaya stabilisasi rupiah tahun 2010 yang menelan hingga Rp 30 triliun. Endy menyatakan hal itu ada di pencatatan akuntansi.
"Waktu kita beli dulu cadangan devisa dulu Rp 9.500 per dolar AS sekarang Rp 9.000 per dolar AS, kita dah rugi Rp 500. Di akuntansisu dah dihitung kerugian," ujarnya.
Endy menjelaskan ketika BI menyerap valas, suku bunga valas yang didapatkan rendah. Di sisi lain, saat capital inflow masuk ke SBI atau portofolio lainnya, BI harus mengeluarkan bunga di level 6% atau 6,75%.
"Ada selisih dengan return dari cadangan devis avalas itu," ujarnya.
Namun, Endy mengakui ada kerugian di sisi akuntasi tersebut belum direalisasikan saat ini hingga masih menjadi potensi kerugian. Oleh karena itu, pada tahun 2011 ini BI tidak akan menjaga terus rupiah di level Rp 9.000 /US$ jika capital inflow masuk. Sebab jika terus dijaga, capital inflow justru akan terus masuk karena imbal hasil yang diperoleh di Indonesia menarik.
"Kalau (rupiah) dibiarkan apresiasi, itu justru bisa jadi bemper untuk mengurangi apital inflow," keluhnya.
Ke depan, Endy menilai penguatan rupiah masih berada dalam batas wajar. Menurutnya, jika rupiah berada di level Rp 8.700/US$, apresiasinya masih wajar dibandingkan apresiasi mata uang kawasan ringgit Malaysia dan bath Thailand. Sebab secara fundamental, penguatan mata uang rupiah jika tidak dijaga bisa mencapai Rp 8.500/US$.
Ketika ditanya perlu tidaknya pemerintah mengubah asumsi nilai tukar di APBN yang saat ini masih di level Rp9.250/US$, Endy mengatakan asumsi APBN 2011 sudah ditentukan sejak tahun lalu sehingga wajar jika berbeda dengan perkembangan harian nilai tukar rupiah. Meskipun dalam menghadapi capital inflow yang datang dari hari ke hari, tegasnya, BI tidak akan menekan nilai tukar rupiah.
"Pemerintah dan DPR kemungkinan akan merevisi bulan Maret-April mendatang," pungkasnya. (nia/dru)











































