PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) segera mengevakuasi 200 karyawannya yang saat ini sedang berada di Libya. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu memiliki proyek kerjasama dengan mitra Libya berupa pengerjaan interior shopping mall senilai US$ 17 juta.
"Semenjak kekacauan itu, proyek kita pada posisi suspen. Kita akan evakuasi karyawan sebanyak 200 orang," ujar Sekretaris Perusahaan WIKA Natal Argawan kepada detikFinance, Kamis (24/2/2011).
Ia mengatakan, setelah melakukan monitoring di negara kaya minyak itu, seluruh karyawan perseroan yang ikut dalam proyek tersebut dalam kondisi aman. Diharapkan, seluruh karyawan warga negara Indonesia (WNI) itu sudah bisa menjejakkan kaki di tanah air di akhir pekan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, proyek kerjasama dengan mitra Libya itu mempekerjakan sekitar 500 orang. Dari jumlah itu 300 diantara pekerjanya warga negara Libya.
Proyek tersebut sudah dihentikan sejak kekacauan berlangsung. Menurut Natal, proyek itu akan diteruskan kembali jika situasi Libya sudah kembali aman.
Kondisi di Libya hingga Rabu ini semakin parah. Untuk pertama kalinya, pemerintah Muamar Khadafi melansir data korban tewas akibat kerusuhan yang terjadi sejak pekan lalu. Jumlah korban tewas sebanyak 300 orang, rinciannya 189 warga sipil dan 111 tentara.
Dewan Keamanan PBB telah mengeluarkan kutukan atas insiden yang terjadi di Libya. Sedangkan Muamar Khadafi dalam pidatonya yang penuh kemarahan semalam menyatakan, dia akan berjuang hingga darah penghabisan.
Sejumlah perusahaan minyak sudah mengumumkan rencana evakuasi para ekspatriatnya yang bekerja di Libya, seperti Total dan BP. Medco sendiri sebelumnya mengaku belum memutuskan apakah akan mengevakuasi karyawannya atau tidak. Menurut juru bicara Medco, Sisca Alimin, Medco terus memonitor kondisi di Libya.
Kondisi di Libya tersebut terus membuat harga minyak terus melambung. Pada perdagangan Rabu (23/2/2011) di pasar Asia pagi ini, minyak light sweet pengiriman April kembali naik 4 sen menjadi US$ 95,46 per barel. Minyak Brent pengiriman April naik 22 sen menjadi US$ 106 per barel.
Libya merupakan salah satu anggota OPEC, dengan produksi termasuk terbesar keempat di Afrika setelah Nigeria, Aljazair dan Angola. Produksi minyak Libya ditargetkan mencapai 1,8 juta barel per hari (bph), dengan cadangan diperkirakan mencapai 42 miliar barel.
(ang/qom)











































