Pada perdagangan Kamis (24/2/2011), harga minyak Brent akhirnya ditutup hanya naik 11 sen ke level US$ 111,36 per barel. Minyak Brent ditutup naik 82 sen ke level US$ 97,28 setelah sempat melonjak ke US$ 103,41 per barel.
Membaiknya harga minyak setelah sempat mengamuk menembus level tertingginya itu langsung membuat bursa Wall Street membaik. Meski ditutup melemah, namun porsinya sudah tidak terlalu besar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Indeks S&P 500 membaik dari titik terendahnya akibat kekhawatiran atas dampak lonjakan harga minyak dunia terhadap aktivitas perekonomian. Saham-saham sempat memburuk ketika harga minyak Brent menembus US$ 120 per barel. Indek sudah turun 2,7% sepanjang pekan ini, namun investor meyakini akan ada rebound lagi,
"Rebound itu menunjukkan masih adanya support untuk beli. Libya adalah alasan yang bagus untuk memicu pelemahan, namun saya tidak berpikir siapapun akan mengubah pikirannya terhadap pemulihan ekonomi karena ini," ujar David Joy, analis dari Columbia Management seperti dikutip dari Reuters, Jumat (25/2/2011).
Perdagangan berjalan cukup semarak, dengan transaksi di New York Stock Echange mencapai 8,90 miliar lembar saham, di atas rata-rata harian tahun ini yang sebesar 8,47 miliar.
(qom/qom)











































