Demikian disampaikan oleh Gubernur BI Darmin Nasution saat ditemui di Gedung Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Jumat (25/2/2011).
"Kita masih melihat itu (nilai tukar rupiah) sejalan dan belum overvalue (terlalu kuat)," kata Darmin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalau kesenjangan itu terus berlanjut, tambah Darmin, maka nilai mata uang rupiah akan cenderung menguat. Apalagi jika ditopang kebijakan moneter dan fiskal yang dapat meningkatkan kepercayaan.
"Kalau semuanya itu bergabung maka arahnya adalah rupiah menguat," ujar Darmin.
Namun, Darmin tidak bisa memberikan angka berapa nilai rupiah yang diinginkan BI. Pasalnya, pihak BI juga harus mengikuti dinamika pasar. Yang pasti, BI akan menjaga sisi fundamental sehingga tidak menganggu ekspor.
"Kalau ditanya berapa, maka jawabannya adalah Bank Indonesia tidak pernah membuat target nilai tukar rupiah dalam satu angka. Kita pasti akan mengikuti dinamikanya pasar, kita ikuti juga fundamentalnya seharusnya nilainya berapa, dan kita jaga agar fundamental itu tidak merugikan kita, perekonomian kita," tutur Darmin.
"Lalu bagaimana supaya ekspornya tak terkena disinsentif akibat kurs yang nanti akan mengakibatkan transaksi berjalannya defisit, dan itu merugikan ekspor. Jadi bagaimana supaya nilai rupiahnya sejalan dengan fundamental ekonomi kita," tambah Darmin.
(nia/dnl)
