Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh pertumbuhan kredit perseroan yang selama 2010 mencapai Rp 23,3 triliun atau tumbuh 48% dari tahun 2009 yang sebesar Rp 15,7 triliun. Pertumbuhan kredit itu ditopang rasio kredit bermasalah (NPL) di posisi 0,48%.
Direktur Utama BTPN, Jerry Ng mengatakan, di tahun 2011 BTPN tetap mengembangkan bisnis Pensiun dan UMK melalui penyaluran kredit dan program-program pemberdayaan dan pengembangan kapasitas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk dana pihak ketiga (DPK) dimana Per 31 Desember 2010, DPK mencapai Rp 25,5 triliun atau tumbuh 38% (yoy). Sementara itu, aset BTPN juga mengalami peningkatan signifikan, mencapai Rp 34,5 triliun atau meningkat 55% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu Rp 22,3 triliun.
Jerry memaparkan, BTPN masih konsisten mengembangkan bisnis di segmen mass market, dengan melayani para pensiunan dan pelaku Usaha Mikro & Kecil (UMK). Dikatakan Jerry, BTPN juga melakukan pemberdayaan yang mulai dikembangkan pada akhir 2008 lalu yakni pensiun Sehat & Sejahtera (PSS) dan Capacity to Grow (C2G).
"PSS bertujuan memberikan kesempatan bagi para nasabah Pensiunan untuk memenuhi keseluruhan elemen sehat dan sejahtera, terdiri dari 3 pilar program yaitu Pusat Informasi, Program Konsultasi, dan Peluang Usaha. Sementara C2G bertujuan meningkatkan kemampuan nasabah BTPN I mitra usaha rakyat (MUR) dalam mengelola usahanya melalui 3 pilar utama yaitu Pusat Informasi, Program Pelatihan, dan Peluang Usaha baru," jelasnya.
(dru/qom)











































