"Dengan kondisi pasar seperti ini ada yang menunda. Aditech menunda. Sidomulyo Selaras menunda rencana pencatatan saham perdana, pada kuartal pertama 2011," jelas Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Eddy Sugito, saat ditemui di kantornya, SCBD Jakarta, Senin (28/2/2011) malam.
Ia menyebutkan, pasar saham saat ini masih menghadapi volatilitas yang cukup tinggi. Yang tadinya, perseroan memakai tahun buku September 2010 dalam pengajuan IPO, menjadi berganti Desember 2010. Pencatatan saham perdana keduanya pun diperkirakan baru terlaksana pada semester II-2011.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Penundaan biasa, masalah timing, masalah kritikal. View investor terhadap ketiga saham IPO, dengan peak (puncak) di Garuda. Namun masalah timing itu susah," tegas Eddy.
Sebelumnya, manajemen PT Sidomulyo Selaras, perusahaan jasa transportasi bahan kimia dan bahan berbahaya, siap mencatatkan saham perdananya (Initial Public Offering) pada triwulan I-2011. Perseroan siap melepas 30% saham ke publik.
Sidomulyo sendiri telah mempercayakan PT Makinta Securities selaku penjamin emisi (underwriter) atas IPO perseroan. PT Sidomulyo Selaras sendiri telah berdiri sejak 1986. Saat ini perseroan dipimpin oleh Sasminto Tjoe dengan dua fokus bisnis utama, yaitu logistik dan transportasi.
Sedangkan Aditech, merupakan produsen kompor gas merek Quantum. Nilai IPO perseroan berkisar di bawah Rp 500 miliar. Aditech juga telah menunjuk PT Dinamika Usaha Jaya Sekuritas selaku pelaksana penjamin emisi (underwriter) atas saham perdana perseroan.
Kondisi pasar yang kurang baik selama awal tahun 2011 telah menyebabkan 3 IPO tidak sukses. Tiga 'tamu' BEI di awal 2011 yakni 3 tamu yakni PT Megapolitan Development Tbk (EMDE), PT Martina Berto Tbk (MBTO) dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) bernasib kurang beruntung karena harga sahamnya langsung tergerus.
(wep/qom)










































