Insentif Pasar Saham Minim, Investor Lari ke Obligasi

Insentif Pasar Saham Minim, Investor Lari ke Obligasi

- detikFinance
Senin, 24 Mei 2004 11:16 WIB
Jakarta - Pasar saham Indonesia yang dicerminkan lewat indeks harga saham gabungan (IHSG) saat ini dinilai sudah kemahalan dan kehabisan insentif. Kondisi ini akan membuat investor lebih suka berinvestasi pada obligasi ketimbang saham karena lebih aman. Demikian diungkapkan oleh analis dari PT Dinamika Usaha Jaya Sekuritas Poltak Hotradero di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Senin,(24/5/2004). Menurut Poltak, dengan tingkat bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) seperti sekarang maka tingkat imbal hasil obligasi atau yield efek sekitar 8 persen dengan kategori instrumen yang tidak ada risikonya. Sedangkan pasar saham saat ini memberikan tingkat bunga sebesar 11-12 persen, dan jika dikurangi inflasi, maka hasilnya sama dengan yield obligasi sebesar 8 persen. "Jika saham dan obligasi rillnya memberikan keuntungan sama-sama 8 persen, dimana obligasi tidak ada risikonya sedangkan saham walaupun bisa naik tapi juga rawan turun, maka investor akan lebih memilih obligasi," kata Poltak. Melihat kondisi seperti ini lanjut Poltak, jika tidak ada insentif penurunan suku bunga, tidak ada perbaikan inflasi maka pasar berarti tidak ada insentif naik karena sudah kemahalan. Namun jika pada bulan-bulan mendatang inflasi bisa turun, dimana kemungkinan suku bunga ikut turun, pasar saham masih memiliki ruang naik atau setidaknya stabil. "Tapi kalau melihat peta The Fed naik, minyak naik, inflasi global juga naik ini akan memberikan pengaruh ke Indonesia yang berdampak terhadap suku bunga. Tingkat suku bunga setidaknya bertahan seperti saat ini saja sudah bagaus, tapi kalaupun naik yang dikorbankan adalah saham," ujarnya. Poltak menilai, pasar saham Indonesia sudah mengalami bullish (naik) selama satu setengah tahun. Menurut dia, jika melihat pola-polanya maka sesudah bullish akan menjadi bearish (turun). Apabila saat ini sudah indikasikan bearish yang dijadikan patokan menurut Poltak adalah jika indeks sudah turun 20 persen dari posisi tertingginya di level 800 atau turun 150 poin sampai ke level 650. "Jadi kalau turun dibawah 650 itu bisa dikatakan sustinable, sedangkan angka sekarang ini tidak sustainable," katanya. Mengenai adanya obligasi pemerintah yang jatuh tempo yang akan membuat banyak dana menganggur, Poltak menilai dana tersebut tidak akan masuk ke saham. "Biasanya Dana Pensiun atau investor institusi kalau kelebihan likuiditas masuknya ke instrumen sejenis yang shor term tapi tidak ke saham," katanya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads