Dana Over Likuid, Reksa Dana Lari Ke Pasar Uang

Dana Over Likuid, Reksa Dana Lari Ke Pasar Uang

- detikFinance
Selasa, 25 Mei 2004 17:07 WIB
Jakarta - Kelebihan dana atau over likuiditas yang dialami pengelola reksa dana memicu Manajer Investasi untuk memindahkan dananya ke instrumen di pasar uang. Perpindahan ke pasar uang ini selain mengantisipasi naiknya suku bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia) juga karena obligasi yang dicari jumlahnya relatif sedikit ketimbang dana yang beredar. "Beberapa bulan terakhir ini memang ada peningkatan penempatan reksa dana ke pasar uang karena mengantisipasi akan naiknya suku bunga SBI," kata Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Muhammad Hanif yang juga Dirut PT Danareksa Investment Management di Gedung Bapepam Jakarta,Selasa (25/5/2004). Hanif mencontohkan, Danareksa Investment Management (DIM) yang dikelolanya juga menempatkan reksa dana ke pasar uang dengan jumlah yang semakin meningkat. Dimana saat ini reksa dana pasar uang yang dikelola DIM mencapai Rp 2,5 triliun naik sebesar Rp 1 triliun dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Menurut dia, selain karena mengantisapasi naiknya suku bunga SBI yang mengikuti tren global juga karena Manajer Investasi sulit mencari reksa dana pendapatan tetap dalam hal ini obligasi. Kondisi ini menurutnya yang membuat dana di pasar menjadi over likuid. "Kalau sudah sulit biasanya Manajer Investasi membeli di pasar sekuder bukan di pasar primer meskipun harganya lebih mahal," katanya. Sementara itu Dirut Bursa Efek Surabaya (BES) Hindarmojo Hinuri mengakui, saat ini ada sekitar Rp 8,3 triliun dana di pasar yang menganggur yang berasal dari Surat Utang Negara (SUN) seri VR 005 yang jatuh tempo 25 Mei 2004. Dana sebesar 8,3 triliun itu hampir 70 persen lebih adalah milik reksa dana. Maka itu kata dia, investor membutuhkan instrumen investasi untuk menampung dana sebesar itu. Jika ditambah dana yang biasanya diinvestasikan ke SBI dan FASBI yang sebesar Rp 144 triliun maka total dana yang menganggur saat ini menurut Hindarmojo hampir mencapai Rp 150 triliun lebih. Sedangkan instrumen investasi yang dibutuhkan terutama obligasi pemerintah (SUN) dan obligasi korporasi sangat sedikit. Saat ini kata Hindarmojo, kebanyakan obligasi yang diterbitkan pemerintah mempunyai tenor 8 tahun atau kurang dari satu tahun. Sedangkan reksa dana biasanya membutuhkan investasi yang berjangka waktu menengah antara 3-4 tahun. Sehingga terjadi missmatch untuk jangka waktu obligasi yang dibutuhkan. "Kondisi ini juga dimanfaatkan oleh emiten untuk menerbitkan obligasi, jika ratingnya minimal A saya yakin apapun obligasi korporasi yang diterbitkan akan terserap pasar," ujarnya. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads