Seperti diketahui perdagangan IHSG pada pekan lalu diwarnai oleh beberapa sentimen positif seperti BI Rate yang tetap bertahan di level 6,75%, pengumuman data inflasi untuk bulan Februari sebesar 0,13% atau jauh dibawah ekspektasi para analis sebesar 0,3%-0,5%, positifnya laporan keuangan sejumlah emiten tahun 2010, dan mulai meredanya krisis politik di timur tengah yang berdampak pada turunnya harga minyak dunia.
"Melonjaknya bursa saham selama pekan lalu tidak hanya terjadi dibursa asia, melainkan juga terjadi dibursa amerika yang dipicu oleh turunnya angka pengangguran amerika di bawah 9% untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir," jelas Muhammad Fikri, analis dari BNI dalam reviewnya, Senin (7/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Disamping itu kembali turunnya harga minyak mentah dunia juga bagus bagi ekspor Asia, karena harga minyak yang rendah mampu meredam potensi inflasi. Untuk jangka panjang berbagai sentimen positif tersebut memberikan angin segar terhadap upaya pemulihan ekonomi global dan akan memperkuat fundamental ekonomi dunia," urainya.
Namun demikian, lanjut Fikri, untuk perdagangan minggu ini faktor yang akan menjadi katalis penggerak IHSG masih mengenai krisis konflik Timur Tengah dan rilis laporan kinerja emiten tahun 2010. Setelah menguat cukup signifikan selama pekan lalu pergerakan IHSG pekan ini diprediksi akan terbatas. Aksi profit taking mulai membayangi bursa, seperti yang terjadi di pasar Amerika pada akhir perdagangan jumat pekan lalu yang ditutup melemah sebagai imbas dari profit taking.
"Tanda-tanda profit taking di bursa saham Indonesia pada dasarnya telah terlihat pada akhir perdagangan jumat pekan lalu dimana investor asing tercatat beramai-ramai keluar dari pasar kondisi inilah yang diprediksi akan kembali berlanjut pada awal pekan ini," tambahnya.
(qom/qom)











































