Bursa Berjangka Jakarta Hanya Untung Rp 11 Juta Tahun 2003
Kamis, 27 Mei 2004 14:46 WIB
Jakarta - Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) berhasil mencapai titik impas (Break Event Point) pada akhir tahun 2003 dengan mencatat keuntungan (laba sebelum pajak) Rp 11 juta sejak beroperasi 15 Desember 2000. Sedangkan laba bersih tahun 2003 mencapai Rp 137,482 juta karena adanya manfaat tangguhan pajak tahun 2003 Rp 126,111 juta. Pada tahun 2002 BBJ masih membukukan rugi bersih Rp 1,420 miliar dengan laba sebelum pajak Rp 2,098 miliar. "Secara absolut keuntungan Rp 11 juta boleh jadi tidak berbunyi, tapi bila dibandingkan dengan rugi bersih Rp 2,098 miliar di tahun 2002. Sedangkan BBJ sebelumnya memperkirakan tahun 2003 masih rugi Rp 1,679 miliar seperti dalam RKAT," kata Dirut BBJ Hasan Zein Mahmud dalam jumpa pers di kantornya Gedung BDN Jakarta, Kamis,(27/5/2004). Pendapatan BBJ tahun 2003 sebesar Rp 5,842 miliar naik dibandingkan tahun 2002 yang sebesar Rp 2,890 miliar. Menurut Hasan, pendapatan tahun 2003 sebesar 80 persen berasal dari perdagangan financial terutama transaksi currency (mata uang). Sisanya baru berasal dari perdagangan komoditi seperti emas, olein, CPO. Perdagangan currency yang paling ramai adalah mata uang Euro, Yen dan Poundsterling. "Ke depannya kita akan mencoba menyeimbangkan antara pendapatan dari financial dan komoditi. Setidaknya pada tahun ini transaksi komoditi bisa di atas 20 persen," katanya. Hasan menjelaskan, jika pada tahun 2002 BBJ memfasilitasi 11 kontrak, maka pada akhir tahun 2003 tersedia 40 kontrak yang ditransaksikan. Sedangkan hingga saat ini tercatat 65 jenis kontrak yang diperdagangkan di BBJ.Jumlah total transaksi juga meningkat hampir tiga kali lipat dari 121.000 lot di tahun 2002 menjadi 336.000 lot di tahun 2003. Kenaikan itu juga terlihat dari peningkatan rata-rata transaksi harian yang naik dari 483 lot di tahun 2002 menjadi 1.434 lot per hari di tahun 2003. Posisi terbuka akhir periode juga mengalami peningkatan dari 168.000 lot pada 2002 menjadi 360.000 pada 2003. Hasan juga menjelaskan, 30 seat yang diamanatkan pada RUPS 2001 kepada manajemen BBJ untuk dijual dalam rangka perluasan basis partisipasi pada tahun 2002 terjual 6 seat dan saat ini sudah terjual seluruhnya. "Untuk tahun 2004 BBJ hanya boleh menjual 10 seat selama satu tahun," ujarnya.
(qom/)











































