Rupiah & Minyak Terus Naik
Investasi Obligasi Terancam Rugi
Jumat, 28 Mei 2004 11:24 WIB
Jakarta - Investasi pada obligasi berpotensi rugi jika rupiah terus melemah dan harga minyak terus meroket karena akan memicu kenaikan inflasi yang selanjutnya bisa menurunkan hasil investasi obligasi. "Patokan untuk berinvestasi saat ini rupiah dan harga minyak yang mencerminkan harga di pasar. Jika rupiah terus melemah dan harga minyak naik terus bisa meningkatkan inflasi dan menurunkan hasil investasi seperti obligasi," kata Cholis Baidowi dari Trimegah Assets Management di Bursa Efek Jakarta, Jumat,(28/5/2004). Investor diprediksi baru akan membeli obligasi lagi jika sudah murah dan stabil. Namun, lanjut Cholis, semua masih serba relatif karena faktor eksternal dan domestik yang ada belum menunjukkan kondisi yang stabil termasuk pergerakan suku bunga. Untuk menyiasati kondisi yang tidak stabil saat ini menurut Cholis, investor akhirnya banyak menyimpan dananya ke deposito. Apalagi setelah ada Surat Utang Negara (SUN) VR 005 yang jatuh tempo senilai Rp 8,3 triliun tidak bisa ditempatkan ke instrumen lainnya karena persediaan barang di pasar juga minim. "Jadi banyak yang disimpan di deposito, mestinya jika ada yang jatuh tempo langsung ada replecement tapi mereka tidak mau beli," katanya. Cholis menilai, pelaku pasar saat ini confuse (bingung) karena melihat kondisi pasar eksternal dan lokal sangat labil. Apalagi, ada kecenderungan dalam waktu 10 sampai 20 tahun mendatang secara persistent (terus menerus) harga minyak terus naik. Hal ini karena ladang minyak baru dan improvisasi teknologi sudah tidak ditemukan lagi. "Tapi kalau ada koreksi harga minyak ini akan bagus buat Indonesia," ujarnya. Dana Pensiun Hindari Trading Cholis juga menyarankan, kepada dana pensiun untuk menghindari trading (transaksi harian) untuk obligasi yang dipegangnya. Menurut dia, dana pensiun lebih baik memegang obligasinya hingga jatuh tempo. "Kalau mereka ikut panik sakitnya bisa 10 kali dibandingkan kalau tidak panik sakitnya 2 kali. Karena selain mereka kalau panik kehilangan capital gain juga harganya turun jadi rugi," katanya. Hal ini berbeda dengan pengelola reksa dana yang membutuhkan trading karena terkait dengan adanya redemption (penarikan) oleh nasabahnya yang bisa dilakukan sewaktu-waktu.
(qom/)











































