Mengawali perdagangan Senin (14/3/2011), indeks Nikkei-225 langsung merosot hingga 556 poin (5,42%) ke level 9.698,37. Kejatuhan bursa saham yang merupakan terburuk dalam sejarah Jepang itu terjadi setelah gempa dan tsunami yang terburuk melanda negara tersebut.
Bursa Australia juga mengawali perdagangan Senin ini dengan penurunan cukup besar. Indeks S&P/ASX200 dibuka anjlok 71,9 poin (1,54%) ke level 4.572,9.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bank Sentral Jepang (Bank of Japan) menginjeksikan 7 triliun yen (US$ 85,7 miliar) ke pasar uang jangka pendek, dalam rangka membangun kepercayaan setelah gempa dan tsunami yang sudah menelan banyak korban tewas itu.
Intervensi tersebut merupakan operasi tunggal terbesar yang dilakukan BoJ.
"Kami akan mengambil semua kebijakan yang memungkinkan, termasuk memberikan likuiditas, menjamin stabilitas pasar finansial dan menjaga setelmen kesepakatan bisnis," ujar juru bicara BoJ.
Sementara Reuters melaporkan, gempa dan tsunami di Jepang diperkirakan menelan kerugian asuransi hingga US$ 35 miliar. Angka tersebut menjadikan bencana tersebut sebagai 'bencana termahal' dalam sejarah, mengalahkan bencana Katrina.
Angka kerugian hingga US$ 35 miliar itu sekaligus hampir menyamai kerugian bencana yang ditutup oleh industri asuransi selama tahun 2010.
(qom/qom)











































