"Produksi dan kekuatan ekonomi Jepang belum jatuh. Saya kira kebingungan pasar akan reda dalam jangka pendek," ujar Menteri Ekonomi Jepang, Kaoru Yosano seperti dikutip dari Reuters, Selasa (15/3/2011).
Pada perdagangan hari ini, indeks Nikkei sempat merosot hingga 14% setelah kemarin juga anjlok hingga 7%. Namun pada penutupan perdagangan, indek Nikkei tercatat turun 1.015,34 poin (10,55%) ke level 8.605,15.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Krisis nuklir itu juga telah menghempaskan saham Tokyo Electric Power Co. Operator pembangkit nuklir terbesar Asia itu tercatat anjlok hingga 42% sejak penutupan perdagangan Jumat lalu.
Saat anjlok ke titik terendahnya hari ini, pasar sudah kehilangan nilai perdagangannya hingga seperlima dihitung sejak Jumat pekan lalu ketika gempa dan tsunami melanda Jepang.
"Semua fokus pada krisis nuklir. Pada situasi di mana krisis sepertinya memburuk, investor asing, domestik memilih keluar dari pasar saham," jar Hideyuki Ishiguro, supervisor dari Okasan Securities.
Selain pemerintah Jepang yang berusaha menenangkan pasar, Bank Sentral Jepang juga berupaya menstabilkan sistem perbankan selama 2 hari berturut-turut, dengan menawarkan cash US$ 98 miliar jika diperlukan. Bank of Japan (BoJ) juga melipatgandakan skema pembelian aset-aset. BoJ juga telah memompakan triliunan yen likuiditas ke pasar. Akibatnya, dolar AS diperdagangkan menguat atas yen ke posisi 81,66 yen, dibandingkan sebelumnya di 81,65 yen.
"Menurut saya, injeksi dari BoJ temporer, mereka akan keluar secepatnya begitu semuanya sudah stabil. Kita sudah mendapatkan yang kita cari, saya kira melemahnya yen adalah hasil dari kerusakan pada perekonomian," ujar David Carbon, managing director DBS Bank seperti dikutip dari AFP.
(qom/dnl)











































