Menurut Kepala Riset Recapital Securities, Pardomuan Sihombing, pasar akan merespons kabar bom berdaya ledak rendah ini secara rasional. Lebih penting, konsentrasi investor tertuju pada kondisi Jepang terkini.
"Di beberapa kejadian bom terakhir investor cenderung rasional. Pasar saat ini lebih concern mengenai ekonomi Jepang setelah tsunami. Bom yang terjadi hari ni diperkirakan tidak terlalu berdampak ke market," jelasnya saat dihubungi detikFinance, Rabu (16/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemulihan ekonomi di negara Sakura tersebut, diperkirakan memakan waktu maksimal 12 bulan. Selama masa itu, sentimen negatif dipercaya terus ada, baik di bursa saham Jepang, atau sektor riil dan otomotif.
"Kondisi sekarang jadi sentimen negatif pasar. (Pemulihan) paling cepat 6-12 bulan," ucap Pardomuan.
Pada penutupan perdagangan terakhir, indeks Nikkei anjlok 10,55%. Indeks sempat menyentuh level kejatuhan terendah, 14%. Kondisi ini, pernah terjadi saat krisis kejatuhan Lehman Brothers di 2008 lalu. Kali ini, terkoreksinya indeks Nikkei dipicu oleh pengumuman pemerintah Jepang akan bahaya radiasi dari ledakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Fukushima.
Namun Rabu pagi ini, bursa Jepang sudah pulih. Indeks Nikkei-225 mengawali perdagangan Rabu dengan kenaikan 158,80 poin (1,85%) ke level 8.763,95. Kenaikan indeks Nikkei terus berlngsung dan selanjutnya sudah menguat hingga 6,05%.
Dampak bencana tsunami dan krisis nuklir di Jepang, dipercaya akan terjadi temporary. Menurut Ekonom Standard Chartered Indonesia, Fauzi Ichsan, secara lebih besar, dunia cenderung fokus pada data makro AS dan Cina, serta kekhawatiran peningkatan harga minyak dunia karena krisis Timteng.
Β
"Kalau pasar finansial, temporer. Minyak lebih kuat (tekanan) negatif. Sebab pada dasarnya, dengan adanya tsunami Jepang, tidak kurangi kepastian investor," tutur Ichsan.
Ia menambahkan, ekonomi dunia kini lebih di-drive oleh kekhawatiran fluktuasi harga minyak, dan data terkini Amerika Serikat yang tidak terlalu baik. Satu lagi, kesiapan pasar atas rencana kenaikan suku bunga Cina yang berimbas pada menurunnya pertumbuhan ekonomi negara tirai bambu tersebut.
"Ini ada beberapa kombinasi. Untuk Indonesia sendiri, dampaknya mungkin netral ya. Kalau ada tidak terlalu besar. Kita belum lihat pasti turunnya seberapa tajam. Justru dengan kerusakan, Jepang harus lakukan rekonstruksi. Kita harus liat, apakah ada impor bahan baku dari Indonesia," tegasnya.
(wep/qom)











































