Indeks Ditutup di Bawah 700

Anjlok 28 Poin

Indeks Ditutup di Bawah 700

- detikFinance
Jumat, 04 Jun 2004 11:45 WIB
Jakarta - Tekanan jual yang melanda Bursa Efek Jakarta (BEJ) membuat indeks kembali melorot tajam. Pada penutupan perdagangan sesi pertama, Jumat (4/6/2004), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 28,641 poin hingga dipatok di bawah level 700, tepatnya di posisi 690,401.Indeks LQ-45 yang terdiri dari 45 saham yang paling likuid turun 6,814 poin pada level 149,736, Jakarta Islamic Index (JII) turun 5,861 poin pada level 113,407, Indeks Papan Utama (MBX) turun 8,822 poin pada level 187,711 dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) turun 4,754 poin pada level 156,553.Perdagangan di pasar reguler mencatat transaksi sebanyak 7.131 kali pada volume 1.181.766 lot saham senilai Rp 627,307 miliar. Hanya dua saham yang mencatat kenaikan harga, 100 saham mengalami penurunan harga dan 288 saham lainnya stagnan.Saham-saham unggulan mendominasi saham-saham yang mengalami penurunan harga terbesar (top loser) antara lain Telkom (TLKM) turun Rp 500 menjadi Rp 6.750, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 350 menjadi Rp 13.400, Indosat (ISAT) turun Rp 275 menjadi Rp 3.675, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 200 menjadi Rp 5.000, Bank Danamon (BDMN) turun Rp 175 menjadi Rp 2.600, Bank BCA (BBCA) turun Rp 125 menjadi Rp 3.450, Bank BRI (BBRI) turun Rp 100 menjadi Rp 1.500 dan Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 75 menjadi Rp 1.125.Sedangkan dua saham yang masih mencatat kenaikan harga di jajaran top gainer yaitu Great River International (GRIV) naik Rp 20 menjadi Rp 420 dan Eratex Djaja Limited (ERTX) naik Rp 5 menjadi Rp 115.Tekanan jual yang melanda perdagangan sesi pertama dipicu kekhawatiran investor baik karena kondisi makro seperti melemahnya rupiah dan mulai naiknya suku bunga SBI serta belum stabilnya kondisi bursa regional dan global yang diselimuti sentimen negatif naiknya harga minyak.Akibatnya, aksi jual yang melanda lantai bursa kembali membuat indeks turun di bawah level 700-an. Pada sesi kedua nanti, indeks diprediksi masih akan dilanda tekanan karena minimnya sentimen positif. (ani/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads