Penutupan Akhir Pekan
IHSG Terpuruk di Bawah 700
Jumat, 04 Jun 2004 16:28 WIB
Jakarta - Pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (4/6/2004), indeks Bursa Efek Jakarta (BEJ) terus terpuruk. Panic selling yang melanda investor membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup turun 21,105 poin pada level 697,937.Kepanikan yang melanda lantai bursa akibat kondisi makro yang tidak kondusif seperti masih melemahnya nilai tukar rupiah, naiknya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) serta belum stabilnya bursa regional.Indeks LQ-45 yang memuat 45 saham yang paling aktif ditransaksikan turun 4,579 poin pada level 151,971, Jakarta Islamic Index (JII) turun 4,110 poin pada level 115,158, Indeks Papan Utama (MBX) turun 6,859 poin pada level 189,674 dan Indeks Papan Pengembangan (DBX) turun 2,901 poin pada level 158,406.Perdagangan di pasar reguler mencatat transaksi sebanyak 13.517 kali pada volume 2.348.625 lot saham senilai Rp 1,226 triliun. Sebanyak 14 saham mencatat kenaikan harga, 87 saham mengalami penurunan harga dan 289 saham lainnya stagnan.Di jajaran top loser, saham-saham yang mengalami penurunan harga terbesar di antaranya Telkom (TLKM) turun Rp 400 menjadi Rp 6.850, Indosat (ISAT) turun Rp 225 menjadi Rp 3.725, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 200 menjadi Rp 13.550, Astra Internasional (ASII) turun Rp 150 menjadi Rp 5.450, Bank BCA (BBCA) turun Rp 125 menjadi Rp 3.450, Bank BRI (BBRI) turun Rp 100 menjadi Rp 1.500 serta Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 75 menjadi Rp 1.125.Sedangkan saham-saham yang mencatat kenaikan harga tertinggi (top gainer) antara lain Aneka Kimia Raya (AKRA) naik Rp 125 menjadi Rp 1.425, Humpuss Intermoda (HITS) naik Rp 25 menjadi Rp 2.500, BII (BNII) naik Rp 5 menjadi Rp 145, Asuransi Harta Aman (AHAP) naik Rp 5 menjadi Rp 230 dan Surya Semesta (SSIA) naik Rp 5 menjadi Rp 200.Menurut analis, kebijakan BI yang akan melakukan pengetatan rupiah untuk mengerem laju penurunan rupiah membuat investor melakukan aksi jual terhadap saham-saham perbankan. Pasalnya, kebijakan tersebut akan memberi sentimen negatif terhdap saham-saham perbankan dalam jangka pendek.Namun demikian, tekanan jual yang terjadi lebih cenderung akibat kepanikan yang melanda investor melihat kondisi makro ekonomi yang tidak kondusif seperti terpuruknya nilai tukar rupiah dan naiknya suku bunga. Selain itu, indeks BEJ juga masih berpatokan pada pergerakan bursa regional dan global.
(ani/)











































