Hal ini disampaikan oleh Komisaris Utama Medco, Hilmi Panigoro ketika ditemui di Hotel Intercontinental, Jakarta, Rabu (30/3/2011).
"Untuk ekspansi migas itu pasti, cadangan harus ditambah. Tapi karena harga minyak sedang tinggi, biasanya harga untuk akuisisi juga jadi makin mahal. Makanya kita sekarang gencar untuk melakukan eksplorasi saja," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita lebih fokus di dalam negeri, kan masih banyak. Salah satunya adalah blok A yang menjadi target kita, kemudian yang di Sumatera Selatan. Kalau bicara yang paling aktif adalah dua blok itu. Blok A sekarang sedang kita develop (kembangkan), kita akan buat solusi jangka panjang," ucapnya.
Untuk masalah produksi, lanjut Hilmi, produksi minyak perseroan tidak akan banyak berubah dan cenderung stagnan, sekitar 130 ribu barel per hari yang ada di dalam negeri. Produksi tersebut cenderung flat karena tidak ada lapangan baru yang bisa dikembangkan.
"Untuk gas produksi sekitar 160 mmscfd. Pokoknya, di dalam negeri tidak banyak berubah. Mungkin tidak banyak berubah dan cenderung flat. Kecuali sampai nanti, kalau lapangan Singa sudah berproduksi maksimum maka bisa kita tingkatkan. Semoga saja akhir tahun ini atau awal tahun depan," tutur Hilmi.
Hilmi mengaku, krisis di Libya membuat target produksi lapangan minyak perseroan di negeri itu terhambat.
"Kita juga sekarang mulai konstruksi yang di Senoro. Saya juga berharap yang di Libya, karena seharusnya Libya sudah bisa masuk tahapan konstruksi, sehingga dalam waktu tiga tahun ke depan sudah bisa produksi yang diharapkan bisa memberi 50 ribu barel per hari," kata Hilmi.
"Tapi kita kan nggak tahu kapan mulainya. Saat ini kan memang tidak memungkinkan untuk beroperasi di lapangan, jadi untuk sementara, operasional kita evakuasi, dan kita deklarasikan force major. Artinya, untuk sementara kita tunggu untuk perubahan situasi di Libya," tandas Hilmi.
(nrs/dnl)











































