PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) menderita rugi bersih Rp 7,64 miliar di akhir tahun 2010, rugi ini jauh lebih kecil ketimbang kerugian tahun 2009 yang menembus Rp 1,627 triliun.
Perseroan mencatatkan perolehan pendapatan bersih sebesar Rp 13,2 triliun, naik hampir 72% jika dibandingkan pendapatan bersih tahun 2009 sebesar Rp. 7,6 triliun.
"Ini menjadi catatan positif bagi BNBR. Inilah yang membuat kami optimis menapak bisnis di tahun 2011," kata Presiden Direktur & CEO BNBR Bobby Gafur Umar dalam siaran persnya, Rabu (30/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan demikian, beban potensi kerugian investasi tahun 2008 yang selama ini dipikul oleh BNBR telah terealisir, dan diharapkan tidak akan berdampak terhadap kinerja BNBR di tahun 2011.
"Karena itu, saya sangat optimis, tahun 2011 ini dan juga tahun tahun selanjutnya, BNBR dapat menunjukkan kinerja keuangan yang akan meningkat pesat dan jauh lebih baik," kata Bobby.
Tahun lalu, BNBR juga merampungkan proses pelunasan pinjaman ke sejumlah kreditur melalui mekanisme debt buyback. Proses ini menurunkan posisi pinjaman BNBR senilai Rp 2,3 triliun.
Sepanjang tahun 2010, harga saham BNBR ikut terkoreksi, dari Rp 84 per lembar di akhir tahun 2009 turun % menjadi Rp 65 per lembar.
Pada penutupan perdagangan hari ini, harga saham BNBR ditutup stagnan di Rp 66 per lembar. Sahamnya diperdagangkan 2.595 kali dengan volume 482.114 lot senilai Rp 15,715 miliar. (ang/hen)











































