Demikian disampaikan Direktur Keuangan GIAA Elisa Lumbantoruan di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Kamis (31/3/2011).
"Ada beberapa off, dan mengurangi frekuensi seperti Jogja, Solo, Malang. Tapi tidak cuma itu, karena kita harus terbang lebih lama, untuk ke Surabaya, Denpasar, Australia, jadi lebih panjang. Lewat Kalimantan untuk ke Denpasar. Dampaknya, fuel comsumtion juga akan bertambah," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Fuel kita sudah naik menjadi US$ 90 per barel. Dimana fuel mencapai 32% dari operating cost," ungkap Emir.
Sepanjang tahun lalu merupakan masa investasi GIAA. Dimana perseroan telah mendatangkan 24 pesawat secara langsung. 23 Boeing 737-800 NG dan Airbus A330-200.
"Investasi 2010 digunakan untuk tahun-tahun mendatang. Kita belum pernah sebelumnya ," jelas Elisa.
Biaya operasi yang meningkat juga disebabkan oleh investasi GIAA dalam migrasi pilot dari Boeing Classic ke Next Generation. "Investasi dalam pilot ini membutuhkan waktu 3 bulan. Ini menjadikan produktivitas turun dan pengaruh kepada cost investment," tegasnya.
"Dengan air craft utilization maka cost juga bertambah, sehingga jumlah pilot akan seimbang dengan optimalisasi pesawat," tutur Elisa.
(wep/ang)











































