Menurut Direktur Direktorat Penelitian dan Perbankan BI Wimboh Santoso, IPO bisa menjadi salah satu upaya meningkatkan permodalan bank.
"Selain itu untuk meningkatkan governance, karena dengan kepemilikan publik maka akan tercipta transparansi," katanya di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (7/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Direktur Utama BPD Sulut Jeffrey J. Wurangin, go public sangat diperlukan BPD untuk mendapat dana masyarakat yang cukup murah. Jika hanya bertumpu pada permodalan konvensional, akan sulit mendapat modal untuk mendukung pertumbuhan kredit perseroan.
"Ini sangat perlu. Karena kalau pakai dana biasa sangat lama keluarnya," ungkapnya.
Ia menambahkan, selama ini pemegang saham setiap BPD pada umumnya, sangat sulit mengucurkan dana baru untuk menambah modal mereka. Akibatnya perbankan daerah pun mengalami kesulitan permodalan, dan berasa jalan ditempat.
"Modal bank seret. Gimana mau tambah modal. Padahal harus maju. Sangat pengajuan modal, realisasinya lama dan jumlahnya (yang cair) ga banyak. Dan Juli-Juli keluar," paparnya.
Selama ini pemahaman pemegang saham, yakni Gubernur dan DPRD, relatif tidak sama dengan visi dari eksekutif BPD. Pemegang saham cenderung mengesampingkan modal yang diminta BPD dan lebih mementingkan modal untuk pembangunan daerah.
"Dalam RUPS malah kita disuruh keluar. Eksekutif keluar dulu, dan hanya khusus share holder," ujar Jeffrey.
Hal yang sama dikatakan Direktur BPD Jawa Barat & Banten, Tatang Sumana. "Memang harus meningkatkan intensitas komikasi dgn owner, agar pemahaman yang selama ini belum inline, bisa berkurang," tegas Tatang.
(wep/ang)











































