BNI Masih Pertimbangkan Ikut Divestasi Bank Permata
Kamis, 10 Jun 2004 11:53 WIB
Jakarta - Wakil Direktur Utama PT Bank BNI Tbk Arwin Rasjid mengatakan, saat ini pihaknya terus mengkaji untuk ikut dalam divestasi saham PT Bank Permata Tbk. Opsi pembelian Bank Permata tersebut masih terbuka, walau sementara ini belum diputuskan."Kita terus mengkaji untuk ikut dalam divestasi Bank Permata karena ada beberapa hal yang harus diperhatikan lebih dalam terkait dengan BMPK dan CAR ," kata Arwin saat dijumpai di gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Jl. Jenderal Sudirman, Kamis (10/6/2004).Menurut dia, untuk mengakuisisi sebuah bank harus melihat kondisi perusahaan seperti Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) dan Rasio Kecukupan Modal (Capital Adequacy Ratio/CAR), karena akuisisi berbeda dengan merger.Arwin juga menjelaskan, mengenai rencana penerbitan obligasi sub debt sebesar US$ 200 juta masih menunggu stabilnya kondisi suku bunga, baik lokal maupun global. "Kalau keadaan bunga sudah lebih jelas, itu bisa diterbitkan," katanya.Sebenarnya, penerbitan obligasi sub debt itu akan dibarengi dengan pelaksanaan penawaran umum saham (right issue) dalam rangka meningkatkan modal untuk memperkuat CAR BNI. Diharapkan, pelaksanaan divestasi yang mencakup right issue sebesar Rp 1 triliun bisa dilaksanakan pada semester kedua 2004.Mantan Dirut Bank Danamon itu juga menegaskan CAR BNI saat ini sebesar 19 persen. Dalam jangka waktu lima tahun, perseroan bertekad akan menjaga CAR tersebut di kisaran 14-17 persen.Arwin mengatakan, tanpa pelaksanaan right issue dan sub debt tahun ini dengan maksimal pinjaman kredit Rp 10 triliun, maka CAR BNI bisa bertahan di level 14 persen. "Tapi walaupun 14 persen di atas 8 persen (ketentuan BI), kita mau konservatif meningkatkannya supaya levelnya aman," katanya seraya menyebutkan rasio kredit dan dana pihak ketiga (Loan to Deposit Ratio/LDR) BNI saat ini mencapai 50 persen. Ditambahkan, untuk tahun 2004, BNI menargetkan pinjaman kredit maksimal Rp 16 triliun. Sedangkan kondisi normal di level Rp 10-12 triliun. Pendapatan bunga bersih untuk tahun 2004 diharapkan naik 20 persen dibanding tahun sebelumnya, dengan laba bersih mencapai Rp 3 triliun. "Hingga Maret, laba bersih kita Rp 750 miliar. Jadi kemungkinan sampai akhir tahun target kita tercapai," demikian Arwin Rasjid.
(ani/)











































