BI: Pelaku Pasar Jangan Over Reaktif

BI: Pelaku Pasar Jangan Over Reaktif

- detikFinance
Kamis, 10 Jun 2004 13:24 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) meminta pelaku pasar tidak over reaktif terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan BI, termasuk kebijakan baru yakni penyerapan kelebihan likuiditas, penyempurnaan ketentuan Giro Wajib Minimum (GWM) dan penyempurnaan transaksi valas.Paket kebijakan BI tersebut untuk memperkuat stabilitas ekonomi makro, khususnya sebagai respon bank sentral terhadap perkembangan nilai tukar rupiah yang belakangan ini kurang menggembirakan."Jadi pasar jangan terlalu over reaktif terhadap kebijakan-kebijakan mengenai suku bunga luar negeri maupun kebijakan BI. Kalau The Fed menaikkan suku bunga apakah BI harus menaikkan juga, itu masih kita lihat lagi dampaknya. Tapi saya harap jangan terlalu over reaktif," kata Deputi Gubernur BI, Hartadi A. Sarwono, usai temu wicara dengan pelaku pasar di gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Jl. Jenderal Sudirman, Kamis (10/6/2004).Dalam pertemuan tersebut, Hartadi menegaskan, BI tidak akan menaikkan suku bunga, apalagi jika kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed) hanya 25 basis poin. Ia menjelaskan hal itu untuk menjawab pertanyaan pelaku pasar yang masih percaya BI akan menaikkan suku bunga karena tren suku bunga global sedang naik.Ia juga menjelaskan, fluktuasi nilai tukar saat ini hanya bersifat sementara. Pasalnya, BI terus melakukan upaya-upaya untuk menstabilkan kembali nilai tukar tersebut. "Jadi jangan terlalu panik. Kita mengharpkan nilai tukar stabil lagi sehingga inflasi tidak terlalu besar. Saya lihat ini hanya sementara, jadi tidak terus naik," tambahnya.Hartadi menambahkan, depresiasi rupiah yang saat ini di kisaran 4 persen belum memberi dampak yang besar terhadap inflasi. BI menilai inflasi saat ini masih dalam koridor target rata-rata 5-6 persen. Namun demikian, jika rupiah terdepresiasi sekitar 10 persen, maka akan memberi dampak kenaikan inflasi 2-3 persen.Ditegaskan, analisa BI terhadap inflasi untuk jangka panjang sehingga tidak melulu melihat pada situasi saat ini. Hartadi mengakui stabilitas rupiah sangat tergantung persepsi pasar, makanya BI berupaya untuk menarik kelebihan likuiditas di pasar."Contohnya, pada lelang SBI kita targetkan Rp 25 triliun, tapi yang masuk Rp 40 triliun. Itu kita ambil saja," kata mantan calon deputi gubernur senior BI tersebut.Mengenai kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 2-5 persen, diakui Hartadi, kebijakan tersebut memang jarang dilakukan BI karena kebijakan tersebut biasanya dipakai untuk waktu yang agak panjang. Namun, kenaikan GWM diperlukan agar kegiatan ekonomi bisa berjalan lebih cepat seperti penyaluran kredit.Namun demikian, lanjut dia, BI bisa menurunkan GWM jika kondisi sudah baik. "Sekarang belum bisa. Lebih baik kita naikkan menjadi sekitar 8 persen," demikian Hartadi A. Sarwono. (ani/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads