GO Private Indosiar Terancam Batal
Kamis, 10 Jun 2004 15:00 WIB
Jakarta - Rencana go private atau delisting PT Indosiar Visual Mandiri Tbk., (IDSR) dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) terancam batal, jika tidak ada pemegang saham independen yang mengajukan tender offer (lelang tertutup). "Bisa batal kalau pemegang saham tidak setuju atau kalau tidak ada yang mau tender offer," kata Direktur Keuangan PT Indosiar Visual Mandiri Tbk, Phiong Phillipus Dharma, usai RUPS yang berlangsung di kantornya, Jl. Daan Mogot Jakarta, Kamis,(10/6/2004). Pernyataan Phiong tersebut, untuk menanggapi penolakan Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) atas skema go private yang diajukan manajemen Indosiar.Sebelumnya manajemen mengusulkan share swap atau pertukaran saham Indosiar dengan PT Indosiar Karya Mandiri (IKM) yang merupakan induk (holding) dari IDSR dengan rasio satu banding satu. Saham IDSR akan delisting dari BEJ dan sebagai gantinya yang tercatat di bursa adalah perusahaan induknya IKM. Sedangkan bagi pemegang saham yang tidak ingin menukarkan sahamnya, manajemen mengusulkan untuk membeli saham Indosiar senilai Rp 547 per saham. Namun rencana itu kemudian ditolak Bapepam dengan alasan harus ada pihak pemegang saham yang mengajukan tender offer. Phiong mengakui, ada masalah teknis yang harus diperbaiki dalam skema go private tersebut, terutama yang menyangkut tender offer. Phiong tidak memberikan batas waktu kapan rencana go private tersebut dapat direalisasikan. "Bisa saja rencana go private itu batal,"katanya. Phiong menjelaskan, saat ini pihaknya sedang menjajaki pemegang saham independen agar mau melakukan tender offer. Selain itu penjajakan tersebut dilakukan kepada pemegang saham mayoritas yakni TDM dan Prima Visual Mandiri agar mau membeli saham publik. Manajemen juga tidak akan menawarkan harga yang lebih tinggi dari harga Rp 547 per saham, karena harga tersebut berasal dari perhitungan pasar. "Lagi pula hal ini bukan masalah harga, kita ingin bangun IKM bersama-sama pemegang saham publik," ujarnya.Dividen Rp 7,5/saham RUPS juga memutuskan untuk membagikan dividen sebesar Rp 7,5 per saham atau setara dengan 14,8 persen dari laba bersih 2003 Rp 101 miliar. Dividen tersebut akan dibayarkan pada pemegang saham yang namanya tercantum pada 15 Juli dan akan dibayarkan pada 28 Juli. Selain itu disetujui untuk mengeluarkan saham sebanyak 99.458.000 saham dalam rangka ESOP (employee stock option programme).
(mi/)











































