Demikian disampaikan Direktur Jaya Agra Wattie, Bambang S. Ibrahim di Pacific Place, SCBD, Jakarta, Senin (18/4/2011).
"Pabrik akan ada beberapa. Tidak di tahun ini mungkin tahun depan. Untuk pabrik Karet di Jawa dan Kalimantan, karena kami memiliki area di sana. Tapi untuk Karet di Kalimantan," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2008, perseroan mulai membangun pabrik pengolahan sawit pertama dengan kapasitas 45 juta ton per jam di wilayah Kintap, Kalsel. Dan hingga, pabrik tersebut melakukan penjualan hasil olahan berupa minyak sawit dan inti sawit di sejumlah pelanggan.
Selain sawit, perseroan juga memiliki pabrik pengolahan karet. Enam pabrik karet lembaran dimiliki Jaya Agra dengan total kapasitas 13.500 kg per hari, dengan hasil olahan berupa Ribbed Smoked Sheet (RSS). Juga ada dua pabrik karet remah, dengan hasil olahan Standard Indonesian Rubber (RIS). Kapasitas pabrik keduanya mencapai 3.000 kg per jam.
Satu pabrik lagi, pengolahan kopi dengan total kapasitas 1.200 ton per tahun. Produksi utama adalah biji kopi. Sedangkan kebun teh, perseroan memilih untuk menjual langsung berupa pucuk daun.
"Teh kita langsung. Dulu pernah diolah semacam black tea. Saat ini jual pucuk teh dan itu masih untung," paparnya.
Saat ini, total lahan yang dimiliki perseroan seluas 62 ribu ha. Sebanyak 25 ribu diantaranya sudah tertanam, sisanya merupakan cadangan lahan yang memiliki prospek untuk dikembangkan oleh perseroan dan anak usaha.
"Penambahan lahan terus terjadi, apalagi dengan dana yg banyak. Kami akan nambah sebanyak mungkin. Sekarang aja kita punya landbank yang banyak," tutur Bambang.
"Dari 25 ribu ha lahan tertanam kami proyeksikan dalam lima tahun ke depan, jadi dua kali lipat," tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, perseroan mengharapkan pencatatan perdana (listing) saham mereka dapat dilakukan sebelum Juni 2011.
"IPO pertengahan tahun ini. Tidak lebih dari Juni. Iya, masih semester I," ucapnya.
Namun, perseroan enggan berkomentar terkait target dana yang akan diperoleh dari penawaran umum saham perdana Jaya Agra Wattie ini. "Kalau angka jangan dulu, karena ada aturan yang menyatakan saya ga boleh bicara," tuturnya.
Meskipun sebelumnya,Β Presiden Direktur OSK Nusadana Securities, Halim Susanto, selaku penjamin emisi atas Jaya Agra Wattie, pernah menyampaikan, target dana perseroan mencapai Rp 700 miliar. Porsi saham yang ditawarkan kepada publik sekitar 30%.
Bapepam-LK pun masih memproses dokumen IPO perseroan. "Belum (mendapat izin pra efektif. Masih dalam proses," jelas Kepalaa Biro PKP Sektor Riil, Anis Baridwan kepada detikFinance.
Di sisi lain ia menyampaikan, perseroan kini memiliki total lahan 62 ribu ha. Sebanyak 25 ribu diantaranya sudah tertanam, sisanya merupakan cadangan lahan yang memiliki prospek untuk dikembangkan oleh perseroan dan anak usaha.
Dari areal tertanam tersebut, sekitar 7.500 ha merupakan kebun karet. Dimana komoditi yang paling banyak ditanam perseroan adalah kelapa sawit, dengan total 16.500 ha. Sisanya, dalam jumlah minim ditanami kopi dan teh.
"Kalau kopi dan teh sedikit ya, 2% masing-masing," ucapnya.
Ia memperkirakan, di tahun ini pendapatan perseroan akan tumbuh dengan kontribusi utama pada hasil karet. Alasannya, harga komoditi ini di tingkat dunia sedang melambung tinggi. Sampai saat ini, harganya telah mencapai US$ 6 per kg.
"Tahun ini, lebih besar karet. Karena profitnya jauh lebih tinggi. Harga saat ini US$6 per kg. Bahkan ada yang memperkirakan sampai US$ 7 per kg," tuturnya.
(wep/ang)











































