"Kita melihat optimisme itu ada, potensi untuk bertumbuh besar," kata Associate Director Standard Chartered Securities Indonesia, Yuniar Restanto di Ritz Calton, Pasific Place, SCBD Jakarta, Kamis (21/4/2011).
Ia menjelaskan, saat ini tingkat bunga obligasi pemerintah tengah menurun. Dengan acuan tenor satu tahun, suku bunga yang dijanjikan pemerintah masih dibawah bunga obligasi korporasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Obligasi dengan rating yang baik, atau satu note dibandingkan goverment bond, atau BUMN yang mendapat peringkat idAAA, bunganya jauh lebih baik. Bedanya sedikit kan," tambahnya.
"Goverment bond yield-nya menurun, karena asing sudah mulai beli. Investor tentu punya target, dengan premi yang jauh lebih baik," tegas Yuniar.
Optimisme nilai obligasi korporasi bakal lebih tinggi juga disampaikan Rudy Budiarjo, Direktur DBS Vickers Securities. Meski tidak menyebut potensi kenaikannya, namun industri ini akan ditopang oleh penerbitan obligasi yang jatuh tempo, ataupun baru.
"Setiap tahun kan ada yang jatuh tempo. Diantara itu semua, pasti ada saja obligasi yang baru. Tumbuhnya pasti, tapi berapa besar, saya enggak punya risetnya," kata Rudy.
Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), hingga akhir tahun lalu penerbitan obligasi mencapai Rp 35,897 triliun. Angka ini meningkat 31,9% dibandingkan pencapaian tahun sebelumnya, Rp 27,215
triliun.
Dari total obligasi tahun 2010, tercatat surat utang yang jatuh tempo sebanyak Rp 11,514 triliun dan mulai di-buyback tiap-tiap perseroan.
Industri multifinance dan perbankan menjadi dua sektor yang surat utangnya paling banyak mengalami jatuh tempo sepanjang tahun ini. Dimana pada bulan Juli 2011 menjadi periode dengan nilai obligasi korporasi jatuh tempo terbesar, hampir Rp 6 triliun.
(wep/ang)











































