Dolar AS Melemah Setelah Pertemuan The Fed

Dolar AS Melemah Setelah Pertemuan The Fed

- detikFinance
Kamis, 28 Apr 2011 11:07 WIB
Jakarta -
Sebagaimana yang dikhawatirkan sebelumnya, dollar berlanjut melemah terhadap mata uang utama dunia lainnya setelah pengumuman suku bunga FOMC dan pernyataan Chairman Federal Reserve Ben Bernanke.

Di samping mempertahankan suku bunga pada level nol hingga 0,25 persen, FOMC (komisi kebijakan moneter Federal Reserve) juga mengindikasikan akan melanjutkan program pembelian obligasi hingga bulan Juni sebagaimana yang direncanakan. Sementara itu, dalam konferensi pers setelah pengumuman suku bunga, Bernanke memberikan kesan bahwa The Fed tidak perlu buru-buru untuk mengetatkan kebijakan moneternya.


Secara garis besar, Bernanke hanya menegaskan kembali apa yang telah disampaikan sebelum-sebelumnya. Mengenai perekonomian, Bernanke mengatakan bahwa pasar kerja membaik, namun masih belum mencapai kondisi sehat. Sedangkan mengenai inflasi, Bernanke menilai peningkatannya lebih disebabkan oleh faktor-faktor yang bersifat sementara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Minimnya perubahan dalam komunike The Fed tersebut memberikan tambahan alasan bagi para pelaku pasar untuk menggiring dollar berlanjut melemah. Dengan tingkat suku bunga kemungkinan akan dipertahankan di level sangat rendah untuk jangka waktu yang lebih lama, The Fed akan semakin tertinggal dari bank sentral lainnya yang telah atau akan memulai siklus pengetatan moneternya.

Rendahnya tingkat suku bunga AS menjadikan dollar mata uang yang ideal untuk pendanaan transaksi model carry-trade. Dalam carry-trade, investor meminjam mata uang yang bersuku bunga rendah untuk diinvestasikan pada mata uang atau aset lainnya yang memberikan yield (imbal hasil) lebih tinggi.

Pada akhir sesi perdagangan Rabu (27/4), euro ditutup menguat sekitar 0,8 persen di 1.4769 terhadap dollar. Sebelumnya, euro sempat menyentuh kisaran 1.4794 yang merupakan level tertinggi sejak Desember 2009.

Rendahnya tingkat suku bunga ditambah dengan lambatnya pertumbuhan ekonomi dan besarnya defisit anggaran pemerintah AS menegaskan minimnya peluang bangkitnya dollar dalam waktu dekat. Euro diprediksikan akan berlanjut menguat menembus level psikologis 1.50 per dollar.

Bertolak belakang dengan The Fed, Bank Sentral Eropa (ECB) telah menaikkan suku bunganya pada awal April lalu. Jika inflasi tetap melebihi target, ECB kemungkinan besar akan kembali menaikkan suku bunganya, minimal sekali lagi tahun ini.

Poundsterling juga terpantau menguat hingga level tertinggi sejak 2009. Terhadap dollar, poundsterling sempat mencapai 1.6636 sebelum kemudian ditutup menguat sekitar 0,8 persen di 1.6621.

Demikian pula dollar Australia, berlanjut menguat mencatatkan level tertinggi baru sejak mulai diperdagangkan dengan kurs mengambang pada tahun 1983 lalu. Dollar Australia ditutup menguat 0,6 persen di 1.0854 per dollar AS.

Data inflasi kuartal I Australia yang dirilis kemarin membangkitkan ekspektasi akan dinaikkannya lagi tingkat suku bunga Australia. CPI Australia meningkat 1,6 persen pada kuartal Maret, tertinggi sejak Juni 2006.

Di lain pihak, dollar masih mampu menguat terhadap yen Jepang. Bank Sentral Jepang (BoJ) adalah satu-satunya bank sentral yang mungkin akan mempertahankan tingkat suku bunga rendah lebih lama daripada bank sentral AS. Terhadap yen, dollar ditutup menguat 0,8 persen di kisaran 82.25.

Sentimen negatif bagi yen juga datang dari pengumuman Standard & Poors kemarin. Lembaga pemeringkat tersebut kemarin memangkas outlook hutang Jepang menjadi negatif dari semula stabil. (atz)




(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads