Sentimen negatif pasar terhadap dollar semakin bertambah setelah dirilisnya data pertumbuhan ekonomi dan ketenagakerjaan AS semalam.Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa GDP kuartal pertama AS meningkat hanya 1,8 persen, lebih rendah dari ekspektasi sekaligus melambat cukup signifikan dibandingkan angka pertumbuhan 3,1 persen yang tercatat untuk kuartal IV 2010 sebelumnya. Melonjaknya harga-harga makanan dan bahan bakar juga mendongkrak angka indeks PCE (Personal Consumption Expenditures) indikator inflasi naik hingga level tertinggi dalam hampir tiga tahun.
Sementara itu, data Initial Jobless Claims menunjukkan jumlah penduduk AS yang untuk pertama kalinya mendaftarkan diri untuk mendapatkan tunjangan pengangguran meningkat kembali di atas level psikologis 400.000 pada periode pekan lalu.
Data tersebut mencerminkan masalah-masalah utama perekonomian AS, yakni lesunya pertumbuhan ekonomi, tingginya angka pengangguran, dan ancaman meningkatnya tekanan inflasi. Ditambah dengan problem defisit anggaran, masalah-masalah tersebut turut berperan besar bagi melemahnya dollar sejauh ini.
Pada akhir sesi perdagangan Kamis (28/4), euro terpantau diperdagangkan di kisaran 1.4822 terhadap dollar, menguat sekitar 0,36 persen dari level penutupan Rabu. Sebelumnya, euro sempat menyentuh kisaran 1.4877 terhadap dollar, tertinggi sejak Desember 2009.
Dollar sendiri sebelumnya sudah lebih dulu tertekan oleh hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve dan pernyataan-pernyataan Ben Bernanke dalam konferensi persnya sesudahnya.
Sebagaimana diketahui, The Fed memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunganya pada kisaran nol hingga 0,25 persen. The Fed juga memutuskan untuk melanjutkan program Quantitative Easing jilid duanya hingga bulan Juni sesuai jadwal yang ditetapkan.
Keputusan-keputusan The Fed tersebut mengindikasikan bahwa bank sentral AS tersebut tidak ada rencana untuk menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat. Indikasi tersebut kemudian semakin dipertegas Bernanke, Chairman The Fed, pada konferensi persnya kemudian.
Yang paling diuntungkan oleh keputusan-keputusan The Fed tersebut adalah euro, poundsterling, dollar Australia dan mata uang lainnya yang tingkat suku bunganya lebih tinggi atau kemungkinan besar akan dinaikkan dalam waktu dekat.
Poundsterling pada sesi perdagangan Kamis menguat hingga 1.6746 terhadap dollar. Sementara dollar Australia berlanjut menguat terhadap dollar, mencatatkan level tertinggi baru sejak diperdagangkan dengan kurs mengambang pada tahun 1983 lalu.
Dollar Australia kemarin melonjak hingga kisaran tertinggi 1.0948 terhadap dollar AS. Pada akhir sesi perdagangan Kamis, aussie ditutup di 1.0927 atau menguat sekitar 0,7 persen dari level penutupan Rabu.
Selama tidak ada perubahan signifikan pada kebijakan moneter AS, tidak ada alasan bagi dollar untuk berbalik menguat. Dengan masih akan dipertahankannya kebijakan moneter ekstra longgar The Fed untuk jangka waktu yang lebih lama, mata uang ber-yield lebih tinggi diprediksikan akan berlanjut mengungguli dollar. Para analis pada umumnya memprediksikan level 1.50 euro terhadap dollar adalah target rasional yang akan tercapai dalam waktu dekat. (atz)
(qom/qom)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada akhir sesi perdagangan Kamis (28/4), euro terpantau diperdagangkan di kisaran 1.4822 terhadap dollar, menguat sekitar 0,36 persen dari level penutupan Rabu. Sebelumnya, euro sempat menyentuh kisaran 1.4877 terhadap dollar, tertinggi sejak Desember 2009.
Dollar sendiri sebelumnya sudah lebih dulu tertekan oleh hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve dan pernyataan-pernyataan Ben Bernanke dalam konferensi persnya sesudahnya.
Sebagaimana diketahui, The Fed memutuskan untuk mempertahankan tingkat suku bunganya pada kisaran nol hingga 0,25 persen. The Fed juga memutuskan untuk melanjutkan program Quantitative Easing jilid duanya hingga bulan Juni sesuai jadwal yang ditetapkan.
Keputusan-keputusan The Fed tersebut mengindikasikan bahwa bank sentral AS tersebut tidak ada rencana untuk menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat. Indikasi tersebut kemudian semakin dipertegas Bernanke, Chairman The Fed, pada konferensi persnya kemudian.
Yang paling diuntungkan oleh keputusan-keputusan The Fed tersebut adalah euro, poundsterling, dollar Australia dan mata uang lainnya yang tingkat suku bunganya lebih tinggi atau kemungkinan besar akan dinaikkan dalam waktu dekat.
Poundsterling pada sesi perdagangan Kamis menguat hingga 1.6746 terhadap dollar. Sementara dollar Australia berlanjut menguat terhadap dollar, mencatatkan level tertinggi baru sejak diperdagangkan dengan kurs mengambang pada tahun 1983 lalu.
Dollar Australia kemarin melonjak hingga kisaran tertinggi 1.0948 terhadap dollar AS. Pada akhir sesi perdagangan Kamis, aussie ditutup di 1.0927 atau menguat sekitar 0,7 persen dari level penutupan Rabu.
Selama tidak ada perubahan signifikan pada kebijakan moneter AS, tidak ada alasan bagi dollar untuk berbalik menguat. Dengan masih akan dipertahankannya kebijakan moneter ekstra longgar The Fed untuk jangka waktu yang lebih lama, mata uang ber-yield lebih tinggi diprediksikan akan berlanjut mengungguli dollar. Para analis pada umumnya memprediksikan level 1.50 euro terhadap dollar adalah target rasional yang akan tercapai dalam waktu dekat. (atz)











































