Hal ini disampaikan oleh Direktur Keuangan LPPF Richard Gibson usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Hotel Aryaduta, Jakarta, Rabu (4/5/2011).
"Tidak ada pinjaman baru. Untuk penambahan gerai kami rencanakan 8-10, dengan kebutuhan capex (belanja modal) Rp 450 miliar. Pakai internal cash," tuturnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan penambahan gerai tersebut, LPPF membidik pertumbuhan penjualan 10-20% dari pencapaian tahun lalu, Rp 7,907 triliun.
"Selama tahun lalu pertumbuhan 15% sudah cukup baik. Kita akan jaga dari tahun ke tahun. Ritel industri fashion tidak terlalu pengaruh terhadap inflasi. Kalau realistis, double digit berarti 10-20% di 2011. Pencapaian quarter I tidak lebih buruk, namun kami harus menunggu hasil audit," imbuh Benjamin.
Selain itu, Richard juga mengatakan, perseroan berencana untuk mengurangi utangnya tahun ini dari Rp 3,8 triliun menjadi Rp 2,5 triliun.
"Posisi utang telah berkurang Rp 400 miliar. Target kami posisi utang hingga akhir tahun menjadi Rp 2,5 triliun. Yang awalnya Rp 3,25 triliun dan posisi akhir tahun lalu Rp 3,807 triliun," jelas Richard.
Menurut Presiden Direktur LPPF, Benjamin J. Mailool posisi utang tidak menjadi permasalahan perseroan. Ini disebabkan karena posisi kas internal LPPF yang memandai. Utang dimaksud untuk memperkuat struktur permodalan dari perseroan.
"Tidak khawatir jumlah utang, namun dengan fluktuasi bisa saja bertambah," ucapnya.
(wep/dnl)











































