Euro dan Poundsterling Terkoreksi Jelang Agenda ECB dan BoE

Euro dan Poundsterling Terkoreksi Jelang Agenda ECB dan BoE

- detikFinance
Kamis, 05 Mei 2011 10:59 WIB
Jakarta -
Menggambarkan "kegugupan" market menjelang pengumuman suku bunga European Central Bank (ECB) dan Inggris (BoE), hari ini (5/5), euro dan poundsterling yang sempat berbalik menguat terhadap dollar mesti terkoreksi pada akhir sesi perdagangan.

Euro pada sesi perdagangan Rabu sempat menguat hingga kisaran 1.4936 terhadap dollar, tertinggi sejak Desember 2009. Namun, para pelaku pasar kemudian buru-buru melakukan aksi profit-taking, enggan mengambil resiko menjelang agenda ECB petang nanti.


ECB kali ini diharapkan mempertahankan tingkat suku bunganya setelah awal April lalu menaikkannya menjadi 1,25 persen. Para pelaku pasar khawatir Gubernur ECB Jean-Claude Trichet akan tersirat tidak se-hawkish sebelumnya pada konferensi pers yang dijadwalkan seusai pengumuman suku bunga.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada akhir sesi, euro mesti merelakan sebagian besar gain-nya dan ditutup di kisaran 1.4827 terhadap dollar. Meski demikian, euro diprediksikan akan kembali berlanjut menguat jika Trichet mengindikasikan kemungkinan dinaikkannya tingkat suku bunga ECB pada jadwal rapat kebijakan moneter berikutnya bulan Juni mendatang.

Demikian pula poundsterling, terkoreksi cukup tajam dari level tertinggi kemarin 1.6574 untuk kemudian ditutup di 1.6491 terhadap dollar. Sentimen negatif bagi poundsterling juga muncul dari lemahnya data perekonomian Inggris belakangan ini. Di tengah tingginya inflasi, BoE mungkin terpaksa menunda segala rencana untuk menaikkan suku bunga karena perekonomian Inggris dinilai belum mampu menanggung tambahan beban dari naiknya tingkat suku bunga.

ECB dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunganya pada pukul 18.45 WIB Petang nanti. Sebelumnya, BoE akan lebih dulu mengumumkan keputusannya pada pukul 18.00 WIB.

Dari AS sendiri, data yang dirilis semalam menunjukkan sektor non manufaktur AS pada bulan April berkembang dengan laju yang jauh lebih rendah dari ekspektasi pasar. Lemahnya data perekonomian AS tersebut memicu kekhawatiran mengenai pertumbuhan ekonomi dunia yang berdampak pada anjloknya harga-harga saham dan komoditi. Harga spot emas dunia kemarin terpantau turun tajam hingga kisaran terendah 1505.80 terhadap dollar.

Lemahnya data tersebut sekaligus menambah argumentasi bahwa Federal Reserve belum siap untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Anjloknya harga-harga saham dan komoditi memukul dollar Australia yang performanya berhubungan erat dengan pertumbuhan ekonomi global. Dollar Australia ditutup melemah hampir satu persen di 1.0727 terhadap dollar AS.

Sebaliknya, para pelaku pasar memburu mata uang-mata uang safe-haven seperti franc Swiss dan yen Jepang. Di saat situasi ekonomi maupun politik dunia tidak menentu, para pelaku pasar cenderung berpaling pada franc Swiss yang fundamental perekonomian negaranya dianggap paling stabil.

Terhadap franc Swiss, dollar kemarin jatuh hingga level terendah baru dalam sejarah di kisaran 0.8552. Meski demikian, dollar mampu merebut kembali sebagian kerugiannya sehingga ditutup melemah hanya sekitar 0,03 persen di 0.8610 terhadap franc Swiss.

Sedangkan yen, untuk pertama kalinya sejak aksi intervensi G7, menembus level di bawah 80.50 per dollar. Ditutup di kisaran 80.63 pada akhir sesi perdagangan, yen terhitung menguat sekitar 0,4 persen dari level penutupan Selasa.

Penguatan yen mulai menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar. Pemerintah Jepang bisa terpancing untuk kembali mengintervensi melemahkan yen. Bagi perekonomian Jepang yang sedang lesu dan dalam masa pemulihan pascabencana, penguatan yen hanya akan semakin memperparah situasi. (atz)




(qom/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads