Pada Kamis (5/5/2011), harga minyak mentah mencatat salah satu penurunan terbesarnya dalam sejarah, bahkan minyak light sweet sudah kembali di bawah level US$ 100 per barel.
Salah satu pemicu jatuhnya harga minyak mentah dunia adalah menguatnya dolar AS. Seperti diketahui, euro langsung merosot setelah Bank Sentral Eropa memutuskan untuk mempertahankan suku bunganya di level 1,25%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain faktor jatuhnya harga minyak, bursa Wall Street juga kena sentimen negatif dari buruknya data perekonomian. Klaim baru untuk keuntungan asuransi pengangguran AS mencapai 474.000 pada pekan yang berakhir pada 30 April, yang menunjukkan kenaikan hingga 10% dibandingkan pekan sebelumnya.
"Ini mungkin sangat baik menjadi kasus bahwa gelembung harga-harga komoditas sudah pecah," ujar Hugh Johnson, chief investment officer dari Hugh Johnson Advisors, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (6/5/2011).
Pada perdagangan Kamis (5/5/2011), indeks Dow Jones industrial average merosot hingga 139,41 poin (1,10%) ke level 12.584,17. Indeks Standard & Poor's 500 juga melemah 12,22 poin (0,91%) ke level 1.335,10 dan Nasdaq melemah 13,51 poin (0,48%) ke level 2.814,72.
Perdagangan berjalan dengan ramai, dengan transaksi di New York Stock Exchange mencapai 9,26 miliar lembar saham, di atas rata-rata tahun lalu yang mencapai 8,47 miliar lembar saham.
(qom/qom)










































